Situs Amazon.com sudah dikenal sebagai toko buku online terbesar di dunia. Dari waktu ke waktu layanannya terus bertambah. Toh, bukan berarti semua kebutuhan para pecinta buku dunia sudah terpenuhi. Contohnya, sering ada pertanyaan apakah sebuah buku sudah tersedia di negara seorang penggemar. Kebutuhan lainnya, misalnya, bagaimana mengatalog (secara online) koleksi buku mereka pribadi? Nah, adanya kebutuhan khas dari para penggemar buku inilah yang ditangkap oleh Herryanto Siatono, anak muda asal Indonesia, yang kemudian meluncurkan situs Bookjetty.com.
Posts Tagged ‘Digitalpreneur’
Kiprah Para Digitalpreneur : Bookjetty, One Stop Place buat Pecinta Buku Dunia
April 23rd, 2010
Yuyun Manopol Kiprah Para Digitalpreneur :Thomas Joseph, Pionir Sistem Kodifikasi
April 23rd, 2010
Taufik Hidayat Harus diakui, Internet sudah merasuk ke hampir semua sisi kehidupan manusia modern. Saat ini orang demikian mudah mengakses Internet, kapan pun dan dimana pun. Sebelumnya, Internet identik dengan komputer. Kini telah tersedia bagitu banyak peranti yang dapat digunakan untuk mengakses Internet.
Dengan mewabahnya Internet, kini hampir semua perusahaan sudah mencantumkan alamat website-nya pada kemasan produknya. Sehingga, pelanggan dapat dengan mudah mendapatkan informasi jika membutuhkannya. Pertanyaannya, adakah jaminan alamat website perusahaan itu ditulis dengan benar oleh calon pengunjung? Jangan-jangan, karena alamat website-nya terlalu panjang atau konsumen salah tulis, komunikasi bisa terputus.
Kiprah Para Digitalpreneur : Sanny Gaddafi: Kreator Situs Pertemanan Asli Indonesia
April 16th, 2010
Henni T. Soelaeman Friends Uniting Program Especially Indonesian atau disingkat FUPEI. Ya, inilah situs jejaring sosial besutan lokal. Sebagai situs pertemanan, FUPEI memiliki berbagai fasilitas menarik, sebut saja connect, kirim-kiriman message, testimonial, album foto, musik, video, blog, e-card, games dan sebagainya. Dibesut pada 2004, saat ini jumlah member FUPEI sekitar 130 ribu orang, dan angka itu masih terus bertambah sekitar 300 orang per hari. Beberapa anggota FUPEI juga ada orang asing. Sebagian besar pengguna FUPEI berusia 15-35 tahun.
Kiprah Para Digitalpreneur : Fajar Asikin, Jatuh-Bangun di Dunia TI
April 9th, 2010
Taufik Hidayat Semangat wirausaha telah lama mengalir di diri Fajar Asikin. Ketika kuliah di Fakultas Teknik Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Fajar sudah bercita-cita memiliki perusahaan sendiri. Namun karena keterbatasan modal, selepas kuliah ia terpaksa menjadi profesional terlebih dulu, bergabung dengan IBM Indonesia tahun 1991.
Dari IBM, Fajar sempat berlabuh menjadi Wakil Kepala Cabang Radnet (perusahaan ISP) di Surabaya. Hingga akhirnya pada tahun 2000 Fajar memberanikan diri memulai bisnis sendiri. Bermitra dengan beberapa rekannya, ia memulai dengan mendirikan lembaga kursus komputer lisensi dari Amerika Serikat. Usaha ini kandas, tetapi Fajar tidak menyerah. Ia lantas mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang penyedia tenaga java programmer, dengan klien, di antaranya, Bali Camp, anak usaha PT Sigma Cipta Caraka. Di situ Fajar ikut mengerjakan proyek-proyek Bali Camp pesanan dari luar negeri.
Kiprah Para Digitalpreneur : m-STARS: Andalkan Passion
April 9th, 2010
Eva Martha Rahayu Belakangan ini banyak perusahaan content atau service provider yang gulung tikar. Penyebabnya? Mereka hanya mengandalkan financial capital sebagai modal utama. “Padahal, modal utama yang dibutuhkan information and communication technology entrepreneur adalah passion agar tetap bisa bersaing dan bertahan,” ujar Joseph Lumban Gaol. Dengan passion, CEO PT Antar Mitra Prakarsa (AMP) itu menjelaskan, pengusaha akan terpacu untuk terus berkreasi. Ujung-ujungnya, pelaku bisnis ini dapat bermanuver lebih cepat.
Kiprah Para Digitalpreneur : Beoscope, “YouTube” Lokal ala Suryatin
April 6th, 2010
Taufik Hidayat Yang terjun sebagai digitalpreneur bukan cuma para pemula, melainkan juga tokoh bisnis kawakan sekelas Suryatin Setiawan. Ketika masih aktif berkarier sebagai profesional, namanya kala itu cukup identik dengan TI dan inovasinya PT Telkom. Maklum, bertahun-tahun ia mengepalai Divisi RisTI Telkom. Namun, begitu pensiun dari BUMN telekomunikasi ini – dengan jabatan terakhir Direktur Bisnis Jasa PT Telkom – tahun 2005, namanya seolah menghilang dari orbit bisnis.
Rupanya, Suryatin hanya pensiun sebagai profesional. Ia pernah menekuni bisnis energi alternatif. Mantan petinggi TI Telkom ini juga mengembangkan Talent Source, semacam lembaga pelatihan dan sertifikasi tenaga TI.
Kiprah Para Digitalpreneur : InTouch, Pelopor Penyedia Aplikasi dan Konten Mobile
April 2nd, 2010
Sigit A. Nugroho Nama PT Integra Solusindo Telematika (InTouch) di ranah industri telekomunikasi dan teknologi informasi sudah tersohor. Dan, orang penting di belakangnya adalah Kendro Hendra, yang berperan sebagai direktur pengelola sekaligus pendiri perusahaan ini. Jangan heran, nama InTouch dan Kendro tidak saja terkenal di dalam negeri, melainkan juga di luar negeri.
Ketenaran InTouch ini dipicu keberhasilannya menciptakan sebuah device yang kemudian dibenamkan pada handset Nokia Communicator. Aplikasi yang melambungkan nama Kendro ini disebut dengan SettingWizard dan S80-Datamoverer. Dua aplikasi ini dilisensi Nokia secara global dan dibenamkan di ponsel Symbian S60 Nokia. Hebatnya, temuan itu diterjemahkan ke 127 bahasa.
Kiprah Para Digitalpreneur :Sangkuriang Studio, Orbitkan Wajah Nusantara lewat Game
April 2nd, 2010
Dede Suryadi eski usia Sangkuriang Studio (SS) relatif baru, namanya sudah cukup tersohor. Bahkan nama perusahaan perangkat lunak ini sampai ke telinga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kala itu, dalam sebuah acara, SBY menyebut-nyebut Nusantara Online – produk yang dikembangkan SS – sebagai contoh teknologi buatan anak negeri.
SS didirikan oleh Oka Sugandi dan teman-temannya dari Institut Teknologi Bandung, tahun 2006. Dalam waktu singkat, SS sudah cukup banyak mengembangkan produknya, yang mereka bagi ke dalam empat kategori.
Kiprah Para Digitalpreneur : Gudang Voucher, Sukses Berbekal Kepeloporan
March 26th, 2010
Sudarmadi Kejelian dan kepeloporan menjadi modal sukses bagi pengelola PT Buana Media Teknologi (BMT) dalam membesarkan Gudang Voucher sejak 2004. Ketika perusahaan ini akan berdiri, banyak perusahaan game yang penjualannya minimal, terutama karena adanya kendala distribusi vocer. Di satu sisi demand tidak terlalu banyak, tetapi di sisi lain dituntut harus bisa mendistribusikan vocer game hingga ke seluruh channel di Indonesia. Alhasil, sulit bagi perusahaan game bisa bertahan.
Dari situ pengelola Gudang Voucher melihat peluang mempermudah distribusi vocer dengan cara menyediakan vocer elektronik sebagaimana vocer telepon seluler sekarang. “Kalau voucher handphone di mana pun orang bisa dapat, tapi kalau voucher content, kan tidak semudah itu mendapatkannya,” kata Gede Buwana Mahartapa, COO BMT.
Kemal Arsjad: Melambung Berkat Piawai Bernegosiasi
March 26th, 2010
Siti Ruslina Kehadiran Kemal Arsjad di belantara teknologi informasi (TI) menghadirkan inspirasi baru: tidak mesti seorang ICT-preneur memiliki latar belakang pendidikan di bidang TI. Lantaran kepiawaiannya bernegosiasi, sarjana pemasaran lulusan Universitas Pelita Harapan ini mendirikan Better-B, pembuat aplikasi BlackBerry melalui bendera PT Diantara Kode Digital (DKD) pada Desember 2008.
Kemal sendiri “kejeblos” di dunia TI lantaran pergaulannya yang cukup intim dengan pengguna ponsel pintar BlackBerry lainnya melalui milis ID-BlackBerry. Dari situ, ide mengoptimalkan perangkat BlackBerry terus bermunculan.

Posted in
Tags:





