Studi menemukan bahwa nilai komersial perangkat lunak (software) ilegal di Indonesia mencapai US$1,32 miliar di 2010, setara dengan 87% dari total program yang ada di komputer tersebut. Jumlah ini tujuh kali lebih besar dani nilai kerugian pada 2010 sebesar USS157 juta. Bahkan di 2009, niali kerugian software ilegal mencapai US$886 juta.
Temuan tersebut berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh Business Software Alliance (BSA) bekerja sama dengan International Data Corporation (IDC) . “Meskipun kami telah melihat peningkatan upaya pemerintah Indonesia dan industri teknologi informasi (TI) dalam melindungi hak cipta perangkat lunak, namun kami terus menghadapi tantangan besar dalam menekan tingkat pembajakan. Bahkan, ketika industri TI di Indonesia tumbuh, banyak perusahaan masih belum menyadari pemanfaatan software ilegal,” ujar Kepala Peewakilan dan Juru Bicara BSA Indonesia, Donny Sheyoputra.
Survei itu juga menunjukkan meskipun banyak masyarakat mengakui bahwa software berlisensi lebih baik dari software bajakan karena aman dan terpercaya, namun masalah muncul terkait masih banyak pengguna komputer yang tidak memiliki pemahaman cukup tentang cara mendapatkan perangkat lunak berlisensi.
Temuan-temuan lain dari studi tersebut diatas adalah nilai komersial dari perangkat lunak ilegal di Asia Pasifik mencapai US$18,7milliar. Secara global, nilai dari pembajakan software melonjak hingga mencapai rekor US$59 milliar, hampir dua kali lipat sejak 2003. Setengah dari 116 wilayah yang diteliti pada 2010 memiliki tingkat pembajakan 62 persen atau lebih, dimana rata-rata tingkat pembajakan global mencapai 42 persen yang merupakan tingkat tertinggi kedua selama sejarah penelitian.
Negara yang sedang tumbuh ekonominya saat ini berperan menciptakan lebih dari setengah total nilai kerugian akibat pembajakan software komputer sebesar US$31,9 juta. Meskipun begitu, opini publik sangat mendukung Hak Kekayaan Intelektual (HKI), terlihat dari tujuh dari 10 pengguna PC bersedia membayar inventor atas karyanya untuk mempromosikan kemajuan teknologi. Hanya tiga diantara mereka yang berangapan bahwa tidak ada seorangpun yang boleh mengontrol teknologi yang dapat menguntungkan masyarakat.
Keuntungan dari penggunaan software berlisensi di seluruh dunia adalah akses ke bantuan teknis (88%) dan perlindungan terhadap serangan hacker dan malware (81%). Mayoritas pengguna PC di dunia percaya bahwa HKI dan perlindungannya secara nyata memberikan manfaat ekonomi.
Vice President, Asia/Pasifik Consulting Operations IDC Victor Lim mengatakan, “Under-licensing, install satu program legal ke beberapa komputer, menjadi pemicu terbesar pembajakan software. Ini memberikan implikasi yang luas tidak hanya industri software karena ini merupakan alat produktivitas di semua sektor ekonomi. IDC percaya bahwa penting bagi pemerintah untuk mengambil tindakan, melalui mekanisme edukasi dan penegakan hukum untuk memastikan bahwa HKI dihargai dengan baik, sehingga menjamin adanya perbaikan dan pengembangan yang berkelanjutan bagi bisnis software.”

May 23rd, 2011
Ellyzar Zachra 

Posted in
Tags:





