Setelah sukses melambungkan Mixi, situs jejaring sosial terpopuler di Jepang, Batara Eto “pulang” ke tanah kelahirannya, Indonesia, dan mengembangkan bisnis berbasis Internet di sini. Bersama tiga mitranya — Taiga Matsuyama, investor yang membesarkan beberapa perusahaan Internet di Jepang (sebagian telah diakuisisi Yahoo! Japan); Willson Cuaca, pendiri Xsago dengan pengalaman di pengembangan aplikasi mobile; dan Chandra Tjan, yang punya pengalaman di keuangan, pemasaran dan manajemen — pria kelahiran Medan, 27 Juli 1979, ini mendirikan East Ventures (EV).
Perusahaan yang berdiri di Singapura tersebut fokus di bidang investasi pendirian perusahaan berbasis Internet di negara-negara berkembang. Salah satu negara yang dibidik adalah Indonesia.
Menurut Batara, bisnis Internet di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Hal ini bisa dilihat dari jumlah pemilik akun Facebook di negeri ini yang merupakan massa Facebook terbesar di Asia. “Kami anggap pasar Internet Indonesia cukup besar, tetapi belum tergarap dengan baik. Untuk itu, diperlukan entrepreneur baru,” kata lulusan Jurusan Ilmu Komputer Universitas Takushoku, Tokyo ini.
Ide melakukan investasi dan inkubasi pada startups Internet di Indonesia sudah diendapkan Batara sejak beberapa tahun lalu. Ia pun terus memantau perkembangan pasar Internet di negeri ini. Setelah benar-benar yakin, ia baru mengajak mitranya untuk mewujudkan idenya tersebut. “Kami melakukan beberapa brainstorming di Singapura,” katanya “dan akhirnya mendirikan East Ventures pada November 2009.”
“Masalah paling besar yang dihadapi entrepreneur adalah dana serta know how. Kami merasa bisa memberikan solusi yang baik,” ujar pria yang sekarang menjadi warga negara Jepang ini. “Background saya juga dari Indonesia, saya ingin agar Internet di Indonesia bisa berkembang menyaingi negara-negara lain,” tambahnya.
EV mulai mencari perusahaan-perusahaan yang potensial untuk dibiayai. Tokopedia menjadi salah satu yang menarik perhatian mereka. “Kami mengunjungi website yang kira-kira sudah lumayan terbentuk, jangan hanya ide, tetapi harus sudah berjalan dan eksekusinya bagus,” katanya.
Para pendiri EV pun akhirnya menggelar pertemuan dengan pendiri Tokopedia di Jakarta pada November 2009. Pertemuan itu membahas model bisnis yang disepakati, jumlah investasi, dan lain-lain. Hanya butuh waktu dua hari, kedua belah pihak akhirnya mencapai kata sepakat. “Penjelasan mereka cukup bisa dimengerti dan bisnisnya bisa terlihat. Apalagi, mereka bergerak di bidang e-commerce di mana kami juga sudah tahu sejarahnya seperti apa,” ujar Batara.
Ia menambahkan, EV sangat mementingkan latar belakang calon mitranya. Adapun karakter serta kesamaan visi dan misi hanya menjadi salah satu poin penilaian. “Yang paling penting saya kira bukan business model, tetapi orangnya. Siapa yang akan menjalankan bisnis ini,” katanya. Di Jepang, tambahnya, banyak bisnis Internet dengan fondasi ide yang bagus, tetapi karena orangnya tidak bisa menjelankan dengan baik, hasilnya juga tidak bagus.
Batara mengatakan, sebagai investor, ia cuma bisa menjanjikan dua hal: suntikan dana dan pengetahuan mengenai teknis pengembangan bisnis berbasiskan Internet.
Menurut William Tanuwijaya, co founder & Direktur Tokopedia, masuknya EV sebagai investor di Tokopedia bak mimpi yang jadi kenyataan. Pasalnya, dua tahun terakhir Tokopedia tengah mencari investor yang mau menyuntikkan dana di bisnis ini. Kucuran dana segar tersebut, dikatakannya, sangat berharga bagi kelanjutan hidup sebuah website yang biasa menjadi “rumah” para entrepreneur menggelar dagangannya. “Kami tidak pernah membayangkan akan mendapat kucuran dana dengan negosiasi hanya dalam waktu 28 jam,” ucap Wiliam semringah. Pasalnya, sebelum EV masuk, keuangan Tokopedia mengalami kembang-kempis.
Derasnya aliran dana yang masuk dari EV membuat asa pengelola Tokopedia membubung tinggi. Tidak tanggung-tanggung, dalam satu tahun ke depan (hingga akhir Februari 2011), mereka menargetkan meraih pertumbuhan 10 kali lipat. “Di akhir Maret, nilai transaksi bulanan sudah naik dari Rp 300 juta menjadi Rp 400 juta,” ungkap Leontinus Alpha Edison, co founder & Direktur Tokopedia.
Batara menuturkan, kontribusi EV yang menonjol adalah kesediaan berbagi ilmu. “Kami memberikan saran yang lebih detail. Contohnya, kami memberi data e-commerce seperti yang ada di Jepang. Jadi, Tokopedia tidak meraba-raba lagi. Kami tidak perlu bilang begini-begitu, tetapi kami cukup memberikan data-datanya,” ujar pria yang juga pendiri Etolabo (situs penyimpanan foto) ini.
Tantangan membesarkan bisnis ini, menurut Batara, adalah memberikan edukasi bagi buyer dan seller untuk menggunakan domain tersebut. “Startups Internet di Indonesia relatif masih sedikit. Masalahnya, bisnis di Indonesia masih condong ke traditional offline business,” ungkapnya. Pelaku bisnis masih ragu-ragu masuk, karena belum ada contoh kesuksesan dari model bisnis startups Internet. Batara menunjukkan perkembangan pesat e-commerce di Amerika Serikat. Lihat saja Amazon, yang market capital-nya sampai US$ 62 miliar. Lalu, Jepang juga mempunyai Rakuten dengan market capital US$ 8 miliar. Bukan tidak mungkin itu juga terjadi pada Indonesia.
Menurut Nukman Luthfie, pengamat dan pelaku bisnis Internet, masuknya investor ke Tokopedia merupakan langkah maju bagi bisnis Internet di Tanah Air. Pasalnya, tantangan bisnis e-commerce adalah mendidik pasar untuk mau membeli lewat online dan mendidik produsen untuk menjual jasa produk lewat online. “Satu-satunya cara mewujudkannya adalah dengan banyaknya keberadaan perusahaan sejenis, sehingga akan mendorong kepercayaan masyarakat untuk bertransaksi via online,” ujar Nukman.
Batara menegaskan, masuk ke Tokopedia bukan merupakan akhir dari “petualangan” EV di Indonesia. “Masih banyak yang akan kami kerjakan di sini,” katanya tanpa bersedia menjelaskan layanan apa lagi yang akan disuguhkan kepada masyarakat Internet di negeri ini.
Taufik Hidayat dan Rias Andriati
Perjalanan Karier Batara Eto
- 27 Juli 1979: Lahir di Medan
- 2004: Lulus dari Jurusan Ilmu Komputer Universitas Takushoku, Tokyo
- 2004: Ikut mendirikan Mixi, menjabat sebagai chief technology officer merangkap direktur
- Agustus 2006: Mixi melakukan IPO di Bursa Saham Tokyo dengan initial market capital lebih dari US$ 2 miliar
- Desember 2007: Berhenti menjadi Dewan Direktur Mixi, dan menjabat sebagai Penasihat Teknis Mixi.
- Februari 2008: Mendirikan Etolabo di Tokyo, perusahaan di bidang pengembangan web
- November 2009: Ikut mendirikan East Ventures, perusahaan di bidang investasi dan inkubasi startups Internet di Indonesia.

May 31st, 2010
Taufik Hidayat 
Posted in
Tags:





