Harus diakui, Internet sudah merasuk ke hampir semua sisi kehidupan manusia modern. Saat ini orang demikian mudah mengakses Internet, kapan pun dan dimana pun. Sebelumnya, Internet identik dengan komputer. Kini telah tersedia bagitu banyak peranti yang dapat digunakan untuk mengakses Internet.
Dengan mewabahnya Internet, kini hampir semua perusahaan sudah mencantumkan alamat website-nya pada kemasan produknya. Sehingga, pelanggan dapat dengan mudah mendapatkan informasi jika membutuhkannya. Pertanyaannya, adakah jaminan alamat website perusahaan itu ditulis dengan benar oleh calon pengunjung? Jangan-jangan, karena alamat website-nya terlalu panjang atau konsumen salah tulis, komunikasi bisa terputus.
Pertanyaan inilah yang menginspirasi Thomas Joseph mengembangkan teknologi pengodean yang dinamai StarCode. Dengan mengibarkan bendera Future Mediatrix, lulusan Jurusan Desain Grafis Universitas Trisakti ini mengutak-atik teknologi pengodean. “Dengan menggunakan sistem kodifikasi, kemungkinan kesalahan bisa diminimalisasi,” ujarnya. Menurut pria kelahiran 7 Juli 1980 ini, banyak alamat website perusahaan yang tak mudah diingat. “Kadang alamat terlalu panjang. Dan, orang cenderung malas mencatat,” katanya tandas. Sebagai konsekuensinya, pelanggan acapkali gagal mengakses website hanya gara-gara salah menuliskan alamat URL atau tautan.
StarCode merupakan sistem mobile website dan aplikasi lain yang dapat diakses dengan telepon seluler. Caranya, hanya dengan memindai gambar StarCode dengan menggunakan ponsel berkamera, dengan sendirinya gambar itu akan menghubungkan ke website pemilik kode. Sebenarnya, cara kerja StarCode tidak jauh beda dari barcode yang sering dijumpai di hampir semua produk. Namun, barcode hanya menunjukkan harga di layar code reader, sedangkan StarCode menghubungkan ke alamat website. “Tentu saja, di dalam ponsel harus diinstal code reader-nya dulu, baru bisa digunakan,” ujar Thomas. Jadi, pemindaian gambar hanya bisa dilakukan pada program code reader yang terinstal di ponsel. Jadi, begitu gambar dipindai, ponsel akan langsung terhubung ke website perusahaan.
Teknologi kode ini sejatinya telah banyak digunakan di beberapa negara maju. Sebut saja, Singapura, Finlandia dan Jepang. “Masyarakat di sana sudah sangat akrab dengan Internet. Jadi, ketika mereka membutuhkan informasi, tinggal klik ke website,” kata Thomas. Nah, untuk menghindari kesalahan ketik dan faktor lainnya, dibuatlah kode ini. Di Finlandia dan Jepang, misalnya, dikenal dengan Up Code dan Jp Code. “Tetapi gambar kode itu hanya bisa diakses melalui reader tertentu,” katanya. Keunggulan StarCode adalah bisa dibaca pada semua jenis code reader.
Bisinis yang dikembangkan Thomas ini boleh dibilang benar-benar baru. Belum ada yang berani serius di bidang ini. Memang Harian Kompas dan Telkom telah menggunakan sistem ini, tetapi keduanya menggunakan kode ini untuk kalangan sendiri saja, bukan untuk tujuan komersial. “Kami yang pertama di bisnis ini,” ungkap Thomas seraya menyebutkan, perusahaannya memulai bisnis ini pada April 2009 dengan investasi yang tergolong kecil, Rp 100 juta.
Diakuinya, sampai sekarang ia memang belum bisa menikmati keuntungan dari bisnis yang dibangunnya ini. Klien yang didapat juga baru satu, Pedigree (perusahaan makanan dan jual- beli hewan peliharaan). Ia mengaplikasikan layanan Secure Code, yaitu kode untuk mengidentifkasi sertifikat hewan peliharaan. “Perlunya untuk menghindari pemalsuan,” katanya menjelaskan.
Thomas menyadari masyarakat belum aware dengan kode ini. Maka, ia pun harus mengeluarkan energi ekstra untuk edukasi pasar. “Kami kerap mengadakan seminar dan tiap Jumat di kantor mengadakan workshop gratis,” ujarnya. Tim Thomas beranggotakan lima orang. Untuk membiayai “bayi”-nya ini, ia mengambil dana dari ladangnya yang lain. “Saya kan web developer juga,” katanya sembari menambahkan, masa depan pengembang web agak suram. “Saya sudah siapkan senjata,” ujar Thomas menandaskan.
StarCode, menurutnya, tidak hanya untuk mempermudah konvergensi media luring (offline) ke media daring (online), tetapi di dalamnya bisa dimodifikasi lagi. Total produk dan solusi StarCode ada empat. Yakni, NameCode/AdCode/MediaCode, Quiz Code, CRMCode dan Secure Code. “Kami juga menyediakan CostumCode bagi yang memerlukan kode spesial sesuai kebutuhan,” katanya. Ke depan, ia akan menjajaki kerja sama dengan berbagai perusahaan. Ia juga yakin, pada waktunya nanti bisnis ini akan boom. “Beberapa tahun ke depan, orang akan semakin akrab dengan mobile website. Dan, saat itu kami sudah siap, karena kami yang pertama,” ujarnya kembali mengklaim.

April 23rd, 2010
Taufik Hidayat 
Posted in
Tags:






Olga …
Otkuda material ? …