Menjadi Digitalpreneur Tangguh

Fajar Asikin

Fajar Asikin

Kiprah dua sekawan Sergey Brin-Larry Page yang melahirkan  Google, dan  Mark Zuckerberg yang membuahkan Facebook, tampaknya mampu menginspirasi munculnya generasi baru digitalpreneur di seluruh dunia.  Seperti halnya Google dan Facebook, generasi baru digitalpreneur yang lahir berkat inspirasi mereka, juga umumnya menunggangi perkembangan dunia Internet yang makin pesat, dan satu hal lagi: banyak yang bermodal  hobi.  “Bisnis seperti ini biasanya memang selaras dengan hobi pribadi atau sekelompok orang,”  ujar Eko Indrajit, guru besar Ilmu Komputer STIMIK Perbanas. Ia menyebut, modal awal umumnya kecil, yakni sejumlah komputer, peranti lunak, akses Internet, dan SDM yang kreatif.

Gelombang awal generasi digitalpreneur di Indonesia pernah ikut meriah –seiring euforianya di Amerika Serikat – di akhir 1990-an sampai awal 2000-an. Namun, seiring bergulirnya waktu setelah meletusnya dotcom bubble, yang tersisa hanya sedikit sekali. Belakangan, sejalan dengan pesatnya jumlah pengguna ponsel (termasuk dipicu pengguna layanan BlackBerry), makin murahnya biaya akses Internet (termasuk akses mobile), dan merebaknya teknologi media/jejaring sosial, bermunculan pula generasi baru digitalpreneur. Model bisnis yang sebelumnya tak terbayangkan kini bermunculan. Pelakunya bukan cuma pemilik modal berkantong tebal, tetapi juga pengusaha pemula dan pehobi di bidang TI (ICT).

“Untuk memulai sebuah usaha di area ICT memang relatif mudah,”  kata Engkun W. Juganda, Direktur Senior Accenture, yang berpengalaman membantu banyak perusahaan di berbagai negara. Alasannya, dalam berbagai jenis ataupun model bisnis TI apa pun, mesin pendorong utamanya adalah kreativitas.  Namun, semakin besar perusahaan, semakin besar pula kerumitan operasionalnya, mulai dari aspek keuangan, pemasaran, produksi, SDM, dan sebagainya. “Nah, mengembangkannya itu yang sulit,” kata Engkun lagi.

Tak semua orang yang mengerti memulainya dengan mulus. “Awalnya bisa dimulai dengan menginventarisasi pengetahuan, keterampilan dan pengalaman kita sebagai pelaku ICT,” saran Putu Sudiarta, pendiri Bamboomedia, yang fokus membuat software pendidikan.  Itulah mengapa  bisnis digital sering dimulai dari keahlian dan hobi seseorang. Langkah selanjutnya, lanjut Putu, mempersiapkan mental, tim kerja, dan rencana bisnis.

Dalam konteks rencana bisnis inilah harus disadari bahwa dunia bisnis TI yang bisa ditubruk sebenarnya memang cukup luas. “Karena cukup luas itulah kita harus lebih dulu menentukan peluang dan segmen yang mau kita bidik,” ujar Fajar Asikin, Direktur Pengelola Digital Sistem Semesta (DSS), yang fokus menggarap sistem e-gov untuk lembaga pemerintah. Untuk melihat peluang, cara yang dilakukan Fajar dan timnya sendiri adalah membaca tren.  Dalam hal ini, “Kami melihat tren yang menuntut adanya transparansi dalam pelayanan publik.” Karena itulah, DSS fokus menyediakan aplikasi e-gov dengan membidik pasar lembaga pemerintah (termasuk pemda).

Membaca peluang dan kebutuhan pasar juga bisa dilakukan dengan mengumpulkan data terkait yang valid dan menganalisisnya secara mendalam. Putu mengaku melakukannya pada Bamboomedia, termasuk melakukan SWOT secara menyeluruh.

Kalau peluang sudah terbaca dan target pasar sudah jelas, yang berikutnya harus dipikirkan adalah produk (termasuk layanan). Tentunya harus sesuai dengan kebutuhan pasar (pengguna). Toh, merealisasikannya tak semudah menyebutkannya. Ini diakui Indra Sosrodjojo yang mengakui sulit dan panjangnya waktu yang dibutuhkan untuk membuka industri software  massal alias packaged software (sebelumnya Indra lebih banyak menggarap proyek pembuatan software). Dicontohkan Indra, hingga lima tahun sejak Andal Kharisma pertama kali diluncurkan pada 2001, pihaknya banyak mengumpulkan umpan balik, baik dari pengguna maupun calon pengguna (dari sesi presentasi). “Banyak sekali catatan yang kami dapatkan, dan diperlukan waktu dua tahun untuk perbaikannya, hingga muncullah Andal Kharisma (versi) 2009,” ungkapnya.

Di pasar, produk itu biasanya akan bersaing dengan produk sejenis lainnya dari kompetitor.  Karena itu, menurut Putu, produk yang diluncurkan sedapat mungkin punya keunikan dan diferensiasi yang jelas.  “Keunikan itu harus punya nilai tambah, dan diferensiasi itu tidak harus sesuatu yang sama sekali baru. Bisa saja sesuatu yang sudah ada, tapi bisa lebih baik, lebih murah dan lebih cepat disediakan,” katanya  menjelaskan.

Bila produk itu berupa software ataupun layanan TI, menurut Raymond Kosala, Head of School  Computer Science BiNus, sang penyedia harus bisa memberi jaminan service level yang tinggi. Misalnya, mencakup dukungan teknis yang baik, response time yang cepat, dan jaminan pascajual. Cosmas Christanmas, Leading Consultant Chitrah Cendekia, menambahkan, produk itu harus punya fitur yang lengkap dan mudah dipakai, dokumentasi sistemnya baik, mudah untuk perbaikan sistem (misalnya karena adanya bug), gampang diadaptasi/dikoneksikan dengan sistem lain, dan fleksibel menghadapi perubahan (teknologi ataupun kebutuhan). “Pendeknya, sesuai dengan mutu internasional dan harganya bersaing,” Raymond menandaskan. “Nah, pemain ICT lokal masih sering mengabaikan standar mutu internasional ini.  Padahal kompetitornya datang dari seluruh dunia,” lanjutnya mengingatkan.

Memasarkan produk/layanan TI, menurut Putu, harus masif dan luas pada target yang sudah ditentukan.  “Lakukan saja secara fokus dan tidak kenal menyerah,” ia menyarankan. Putu mengakui butuh orang yang tahan banting terhadap penolakan. Selain SDM pemasaran yang tangguh, upaya ini juga membutuhkan langkah (dan bujet) pemasaran, serta komunikasi pasar yang terus-menerus.

Model bisnis tentu tergantung pada jenis bisnis TI ataupun produknya.  Sebagai contoh, Andal Software dan Bamboomedia yang menyediakan produk software paket melakukan pola jual-beli putus. Ke depan, sebenarnya bisa saja software semacam ini dijual seperti halnya sebuah layanan dan cara pembayaran berlangganan dengan pola SaaS  (software as a service)  –seperti sudah dilakukan Salesforce.com. Penyedia portal berita atau jejaring sosial mungkin akan mengejar pendapatan dari iklan online, sedangkan penyedia konten mobile/advertising hendak menerapkan biaya berlangganan, dan sebagainya. “Model bisnisnya harus sustainable dan scalable,” kata Eko menyebutkan prinsipnya. “Menurut saya sih, model bisnis itu harus dibuat sesimpel mungkin tapi mesti logis,” kata Putu, seraya menyebutkan untuk menilai logis-tidaknya memang dibutuhkan pengetahuan dan pengalaman yang cukup. “Hindari model bisnis yang njelimet dan terlalu akademis. Itu hampir pasti akan gagal,” ia mengingatkan.

Kendati begitu, tampaknya benar kata Engkun, memulai (bisnis TI) mungkin gampang, tetapi tak mudah mengembangkannya.  Salah satunya menyangkut modal (duit) yang harus disediakan.  “Kalau perusahaan TI ingin produknya membesar dan lengkap memang butuh modal kerja besar,” ujar Cosmas.  Karena itu, keuangan harus terjaga.  “Dan untuk itu, IT-preneur harus punya proyeksi arus kas dan keuntungan yang jelas,” sambungnya.

Nah, bila kebetulan digitalpreneur itu hanya punya modal cekak, Cosmas menyarankan agar menggandeng investor ataupun pemakai sistem, dan produknya menjadi milik bersama.  Bila produk ini dijual atau digunakan oleh perusahaan lain, ada pembagian tertentu (sharing agreement).  Pola semacam ini memang telah diterapkan oleh banyak pemodal ventura (venture capitalist/VC) di negara maju, sehingga di AS, misalnya, berkembanglah pengusaha TI tangguh di Silicon Valley.  Di Indonesia, Telkom berinisiatif dengan membuat unit usaha bernama Indigo, yang memberi modal bagi calon digitalpreneur yang punya konsep  bisnis  layak didanai, dengan kompensasi pembagian saham buat Indigo.

Menurut Putu, kinerja dan rekam jejak yang baiklah yang akan membuat  investor dan VC kesengsem menjadi mitra bisnis.  “Kita bisa mengemasnya (prestasi dan rekam jejak itu) menjadi peluang investasi bagi mereka,” katanya.  “Tapi, menurut saya sih, buat saja perusahaan kita hebat, itu sudah cukup. Pemegang modal akan mendatangi kita,” katanya yakin. Indra sepakat. Ia menambahkan biasanya investor dan VC juga akan melihat persisten dan keteguhan dalam membangun perusahaan. “Tidak ada salahnya kita, para entrepreneur TI, mengasah keterampilan presentasi dan komunikasi bisnis yang persuasif,” Indra menyarankan.

Seluruh entrepreneur dan pengamat TI yang ditanyai SWA tampaknya sepakat, bahwa untuk menjadi digitalpreneur yang tangguh dan hebat (great) dibutuhkan kombinasi keahlian di bidang teknologi dan keterampilan bisnis. “Dia harus sanggup menyeimbangkan kemampuan teknis dan nonteknis, dan mesti sanggup belajar sangat cepat berbagai sisi operasional perusahaan seperti pemasaran,” Putu menguraikan. Ia menyarankan, bila sistem perusahaan sudah terbangun, sebaiknya manajemen segera diserahkan kepada manajer (profesional eksekutif) yang mumpuni, agar sang digitalpreneur itu bisa fokus pada inovasi dan nilai tambah produk.  “Ya, jangan mengabaikan aspek operasional perusahaan.  Kalau memang tidak punya keahlian (itu), serahkan pada profesional yang ahli,” kata Engkun membenarkan.

Hal tersebut, seperti diungkapkan Raymond, sudah dicontohkan oleh Sergey Brin dan Larry Page  yang jago di bidang teknologi, tetapi memutuskan merekrut Eric Schmidt untuk mengelola operasional Google hingga bisa hebat seperti sekarang.  Atau, di Apple Inc., Steve Jobs yang jago di bidang inovasi dan bisnis, berkolaborasi apik dengan Steve Wozniak yang lebih gape di bidang teknologi.

Sudah tentu, untuk menjadi digitalpreneur tangguh dan hebat, dibutuhkan modal lain berupa karakter personal yang bagus pula.  Yang terpenting, di antaranya: mau belajar terus-menerus (karena teknologi dan kebutuhan user terus berkembang), persisten dan konsisten, bekerja efektif dan efisien, tidak mudah menyerah, dan pemikirannya visioner.  “Pokoknya, semuanya harus fully-installed deh,” kata Putu menyematkan istilah unik.

Reportase: Tutut Handayani, Ahmad Yasir Saputra, Moh. Husni Mubarak, Sigit A. Nugroho

DO’s (Yang Wajib)

Tanggap membaca tren dan peluang bisnis.
Mau menangkap umpan balik dari user/pelanggan.
Tepat membidik pasar dan fokus menggarapnya.
Membuat model bisnis yang logis, sustainable dan scalable.
Menjaga standar mutu produk/layanan dan service level.
Menjaga arus kas dan pengelolaan keuangan.
Membangun tim yang tahan banting dan berkinerja tinggi.
Memadukan kemampuan teknologi dan bisnis.
Menjaga dan mempertahankan kreativitas.
Siap belajar terus-menerus dan adaptif.

DON’Ts (Yang Terlarang)

Gampang menyerah karena hambatan.
Membuat model bisnis yang njelimet dan tidak workable.
Mengabaikan aspek operasional.
Boros dalam pengeluaran dan bekerja  tidak efisien.
Cepat puas dan lupa bahwa perjalanan usaha masih panjang.
Ekspansi bisnis membabi buta.
Percaya diri berlebihan (overconfident).
Telat beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan zaman.

Sumber: Wawancara berbagai sumber.

  • Share/Save/Bookmark
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

 
Powered by WordPress | Download FreeRingtones for Verizon Online. | Thanks to Highest CD Rates, Ally Bank Rates and Binaural & Isochronic Beats