Tempat orang “berkicau” ini terus menjadi media sosial yang paling bersinar di tengah kegemilangan Facebook. Apa pelajaran yang bisa dipetik darinya?
“What we have to do is deliver to people the best and freshest most relevant information possible. We think of Twitter as it’s not a social network, but it’s an information network. It tells people what they care about as it is happening in the world.”
(Evan Williams)
“Twitter dulu, ah.” Atau, “Nge-tweet dulu, ah.” Dua kalimat itu mungkin sudah merupakan frase wajib dalam kehidupan sehari-hari selain “FB (Facebook)-an, dulu, ah.” Seperti halnya Facebook, Twitter dapat dikatakan merupakan identitas virtual yang harus dimiliki semua orang yang tidak mau dicap gaptek.
Situs dengan logo burung ini memungkinkan penggunanya mengirim dan membaca pesan singkat yang disebut sebagai “tweet”. Kemampuan teksnya sangat terbatas sekali: hanya 140 karakter. Sifat pesannya yang pendek ini menyerupai SMS sehingga Twitter acapkali disebut sebagai “SMS-nya Internet”. Pengguna yang menggunakan Twitter ini sama sekali tidak dikutip bayaran alias gratis.
Twitter yang masuk dalam 50 besar situs yang paling banyak dikunjungi di dunia didirikan pada 2006 oleh Jack Dorsey dari perusahaan podcasting, Odeo. Idenya sangat sederhana: mengawinkan SMS dengan jejaring sosial. Inspirasi dasarnya datang dari SMS group messaging services TXTMob.
Awalnya, Dorsey menamakan layanannya ini “twttr”, diinspirasikan dari nama Flickr. Pada mulanya, layanan ini hanya digunakan untuk internal perusahaan Odeo. Pada Juli 2006, mereka meluncurkan layanan ini untuk publik dan mengganti namanya menjadi Twitter.
Nama Twitter sendiri cukup kuat untuk melukiskan bisnisnya. Twitter artinya “kicau burung”. Nama ini diperkuat dengan logo Twitter yang memang berbentuk burung. Jelas, sebuah ide bisnis yang diartikulasikan dalam bentuk brand visual yang matang.
Lantas, apa yang bisa dipelajari dari Twitter?
Pertama: Sekalipun berada di dunia maya, logo dan merek merupakan identitas yang harus direncanakan dengan matang.
Dorsey melihat Twitter ini sebagai berlian yang belum diasah. Tiga bulan kemudian, tepatnya Oktober 2006, Dorsey, bersama Biz Stone, Evan Williams dan beberapa karyawan Odeo lainnya, membentuk Obvious Corporation untuk membeli aset Odeo, termasuk Twitter. Enam bulan kemudian, April 2007, mereka memisahkan Twitter dari Odeo menjadi perusahaan yang berdiri sendiri.
Hampir semua bisnis teknologi informasi, terutama website, menjadi besar dengan injeksi modal dari modal ventura (venture capital). Injeksi modal Twitter pertama diperkirakan sebesar US$ 1-5 juta (Rp 10-50 miliar). Injeksi berikutnya sekitar US$ 22 juta (Rp 200 miliar) di tahun 2008. Injeksi selanjutnya didukung perusahaan modal ventura raksasa, seperti Benchmark Capital, Institutional Venture Partners dan Union Square Ventures, dengan dana sekitar US$ 35 juta (Rp 350 miliar).
Dari sini kita dapat melihat teknologi dan website yang populer sangat memerlukan dukungan finansial yang kuat. Tanpa dukungan finansial, relatif sulit membesarkan sebuah situs. Hal ini dapat dimengerti karena di masa awal, sebuah web relatif jarang bisa menghasilkan aliran dana positif (positive cash flow). Amazon, misalnya, hanya dapat menghasilkan aliran dana positif pada tahun ke-9. Situs besar rasanya mustahil dapat bertahan selama 9 tahun bila tidak didukung otot finansial yang kuat. Injeksi dana berkali-kali merupakan hal yang lumrah dalam bisnis website.
Pelajaran kedua: Sama seperti bisnis konvensional lainnya, bisnis website membutuhkan perencanaan keuangan yang kuat. Pastikan memiliki sumber dana yang mencukupi sampai situs tersebut mencapai aliran dana positif.
Dalam bukunya Tipping Point, Malcolm Gladwell membeberkan bahwa sepatu Hush Puppies sudah sekarat pada 1994. Suatu waktu, beberapa hipster New York memakainya dan pengemar fashion lainnya langsung mengikutinya. Orang lain mengikutinya lagi dan lagi dan lagi sampai penjualan Hush Puppies melonjak 5.000%. Inilah yang dimaksud dengan tipping point, sebuah hal kecil yang menjadikan pertumbuhan eksponensial.
Twitter mendapatkan momentumnya pada festival South by Southwest, sebuah festival film, musik dan konferensi setiap musim semi di Austin, Texas, tahun 2007. Pihak Twitter dengan cerdiknya meletakkan dua televisi 60 inci untuk men-stream pesan Twitter. Twitter menjadi bahasa sehari-hari dalam event tersebut karena diperbincangkan oleh semua panelis dan pembicara. Dalam sekejap, tweet yang ada melonjak dari 20.000 menjadi 60.000 per hari. Jumlah pengguna Twitter naik terus sampai tahun 2009. Ia mengalami pertumbuhan pengguna sebesar 1.382% per bulan.
Pelajaran ketiga: Setiap bisnis harus dengan cerdas memanfaatkan momentum untuk memopulerkan produknya. Sesudah mencapai tipping point, bukan mustahil pertumbuhannya akan eksponensial.
Selain untuk gaul, Twitter juga dipakai di dunia akademis. Unit pembelajaran jarak jauh Jiaotong University di Shanghai menggunakan Twitter sebagai medium pembelajarannya. Mahasiswa diminta mengirimkan sejumlah tweet dalam bahasa Inggris dan membalas tweet temannya.
Universitas Wina, Austria, menggunakan Twitter untuk mengirimkan umpan balik kepada pengajarnya. University of Texas at Dallas meluncurkan inisiatif The Twitter Experiment di mana Twitter digunakan dalam pengajaran. Argumen yang dipakai adalah karena Twitter hanya bisa memuat 140 karakter, mahasiswanya akan terpaksa mengekspresikan pendapatnya secara efektif.
Twitter juga banyak dipakai sesudah bencana alam untuk memungkinkan sesama saling berhubungan mengenai posisi masing-masing. Manfaat sampingan Twitter ini dirasakan korban kebakaran besar California, Oktober 2007. Palang Merah AS juga mulai menggunakan Twitter untuk memublikasikan informasi dari detik ke detik.
CNN 28 Oktober 2008 melaporkan bahwa setelah serangan bom Mumbai 2008, para pengguna Twitter mengumpulkan data korban dan golongan darah yang dibutuhkan. Seorang Tweeps (istilah untuk pengguna Twitter) sampai berkomentar bahwa ”Mumbai is not a city under attack as much as it is a social media experiment in action.” Ya, fungsi media sosial telah berkembang dari sekadar untuk gaul.
Sydney Morning Herald 11 Februari 2009 memuat berita: Dinas Pengawas Kebakaran Australia mencoba menggunakan media sosial untuk mengirimkan peringatan dan update sesudah kebakaran Victoria 2009. KyivPost 5 Januari 2010 melaporkan bahwa Twitter akan dipakai untuk mengawasi jalannya pemilu di Ukraina.
Dalam Pemilu Kanada 2008, Elizabeth May dan Stephane Dion menggunakan Twitter sebagai media untuk pengumpulan opini rakyat. CBC menggunakan hasil Twitter sebagai bukti bahwa rakyat meminta Dion mundur sebagai hasil dari pemilihan tersebut. Hal ini begitu menariknya sampai disebut sebagai “The Politics of Politics 2.0”.
Pelajaran keempat: Sebuah produk dapat digunakan lebih dari peruntukan awalnya.
Perusahaan-perusahaan ternama AS sudah banyak yang menggunakan Twitter. Sebutlah misalnya Dell, Comcast, Kodak dan GM. Perusahaan tersebut menganggap Twitter memberikan kesempatan kepada perusahaan untuk mendengarkan konsumennya sekaligus merespons keluhan mereka. Perusahaan pun menganggap Twitter lebih memberikan sentuhan personal dan hubungan one-on-one secara langsung dengan konsumen. Zappos, peritel online khusus sepatu, mendorong karyawannya menggunakan Zappos. Toni Hsieh, pendiri Zappos, mencoba menggunakan Twitter sebagai sarana membangun budaya perusahaan yang kokoh.
JetBlue, maskapai penerbangan di AS, menggunakan Twitter buat memberitahukan delay ataupun mengomunikasikan alasan di balik kebijakannya men-charge US$ 7 untuk selimut. Di tempat lain, Whole Foods, jaringan penjual makanan sehat di AS, menawarkan vocer US$ 25 untuk tweet terbaik (tweet of the day).
Pelajaran kelima: Jangan abaikan teknologi media sosial sebagai alat “perang” yang baik dalam pemasaran.
Di masa kini, bukan mustahil kalau konsumen yang merasa kecewa akan dengan gampang dan cepat mem-post pengalaman buruknya di media sosial begitu merasa kesal. Seorang konsumen Southwest Airlines dari Newshamshire menuju Philadelphia merasa kesal karena pesawatnya delay selama dua jam dan dia kehilangan tasnya. Pria tersebut memanfaatkan waktu luangnya karena delay tersebut dengan segera mem-post keluhannya di Twitter. Hebatnya, Southwest segera langsung merespons keluhannya itu. Maskapai tersebut langsung meminta maaf, menjelaskan bahwa delay tersebut diakibatkan cuaca dan meminta diberikan kesempatan untuk kedua kalinya. Pria tersebut pun mem-post pengalamannya di blog dan Southwest terus mengikutinya untuk menjamin kepuasannya.
Pelajaran keenam: Suka atau tidak suka, konsumen pasti menggunakan media sosial. Pantau dan tangani keluhan konsumen di media sosial secara terus-menerus.
Pada 30 April 2009, Twitter mengubah tampilan halamannya dengan menambahkan kolom pencari (search bar) dan popular topics — kemudian menjadi trending topic. Dengan demikian, Twitter telah memperluas dirinya menjadi mesin pencari paling update mengenai apa yang sedang terjadi dan apa yang dikatakan orang dari belahan dunia mana pun. Pada akhir 2009, Twitter menambahkan fitur “Twitter Lists” yang memungkinkan penggunanya mengikuti dan membalas daftar authors, bukan mengikuti author individu.
Pelajaran ketujuh: Jangan pernah berpuas diri. Understand your customers and revolve continuously. Good is the enemy of Great!
Pada 9 Februari 2010, Gmail secara resmi meluncurkan Google Buzz (www.google.com/buzz). Google mencoba me-leverage 176 juta pengguna layanannya ke arena media sosial. Google Buzz sendiri diintegrasikan sebagai adds-on ke dalam Gmail. Nah, akankah Twitter mampu bertahan dalam persaingan media sosial? Waktulah yang akan menjawabnya. Yang pasti, tren media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan bisnis di era 2.0 ini.
Sekarang, “Nge-tweet, dulu, yuk, Tweeps.” ***

February 11th, 2010
Edion Lestari 
Posted in
Tags:






[...] sumber: CIO Society [...]