Best e-Corp & CIO 2010: Kontes Mencari Jago-jago Penunggang TI

Dengan maksud memotret sejauh mana kualitas IT usage dan praktik leadership di bidang TI di kalangan korporasi dan mencari teladan terbaik, SWA menyelenggarakan kontes untuk tiga kategori: Best e-Corp, Best CIO, dan Best Future IT Leader. Siapa saja pemenangnya? Apa catatan penting dari ajang ini?

Rabu 9 Desember 2009, meeting lounge kecil di pojok lantai tiga Hotel Shangri-La Jakarta itu menjadi istimewa dibanding biasanya. Sejumlah orang penting di level direksi dan eksekutif senior dari beberapa perusahaan ternama di Tanah Air silih berganti masuk. Dari pagi hingga menjelang siang, ada Indra Utoyo, Direktur TI & CIO Telkom; Karim Siregar, Direktur TI BTPN; Kemal Iman Santoso, Wadirut & CIO Askes; dan Erwin Purwadarma, CIO Allianz Utama Indonesia. Lalu, dari siang sampai sore ada Mohammad Guntur, VP Senior Kebijakan, Prosedur, Perencanaan dan Arsitektur TI Bank Mandiri; Yudi Rulanto, CIO Aplikanusa Lintasarta; dan Paul Ong, CIO Bentoel. Tentu saja ada sejumlah orang penting lainnya yang namanya tak tersebutkan satu per satu. Dan, mereka umumnya cukup bersabar duduk-duduk di lobi menunggu giliran.

Giliran untuk fit and proper test? Tunggu dulu! Meski suasana di dalam meeting lounge tak kalah serius dari forum fit and proper test, ini bukan event seperti itu. Melainkan, forum presentasi para finalis dalam rangka penjurian Best e-Corp 2010. Situasi hampir serupa juga ditemukan pada keesokan harinya (10 Desember 2009), ketika para kandidat Best Future IT Leader (Best Next CIO) mempresentasikan paper mengenai peran dan kontribusi mereka terhadap perusahaan di hadapan panel juri.

Ya, berbeda dari ajang kontes Best e-Corp – singkatan dari Best e-Corporation – sebelumnya. Ajang yang keempat kalinya ini, SWA sebagai penyelenggara menerapkan tahapan presentasi. Selain untuk pemilihan Best e-Corp (yang dimaksud di sini tentu Best IT System), hal ini juga diterapkan untuk pemilihan Best Future IT Leader (Best Next CIO), sedangkan untuk pemilihan Best CIO cukup lewat penjurian take home atas paper dan catatan rekam jejak para nomine. Dua kategori pemilihan terakhir ini (Best CIO dan Best Future IT Leader) merupakan pembaruan dari ajang kontes Best e-Corp sebelumnya (tahun 2007) yang menerapkan kategori Best IT System dan Best IT Team. Singkatnya, di ajang kontes kali ini, pada dasarnya ada dua hal yang ingin dipotret penyelenggara, yakni: sejauh mana kualitas pemanfaatan TI (IT usage) di lingkungan korporasi Indonesia, dan sejauh mana kualitas praktik leadership di bidang TI di Tanah Air. Ajang ini pun dimaksudkan untuk mencari teladan-teladan terbaik.

Perlu dijelaskan, penilaian Best e-Corp (Best IT System) sebenarnya ditekankan pada satu sistem yang diunggulkan perusahaan peserta (one winning system) – walaupun tentu tak mengabaikan bagaimana kesiapan infrastruktur TI dan bagaimana tata kelola TI-nya (IT governance) – bukan pada the whole IT system-nya. Karena itu, fokus penilaiannya adalah manfaat bisnis berikut strategi dan mekanisme buat mengembangkan dan mengimplementasi sistem tersebut. Penyelenggara memandang tak perlu ada pembagian sektoral. Adapun penilaian yang menyangkut pencapaian personal (Best CIO dan Best Future IT Leader), dasar penilaiannya pada paper yang dibuat peserta (terutama menyangkut peran dan kontribusi di perusahaannya) berikut rekam jejak mereka (silakan lihat kriteria dasar penilaian pada ketiga kategori – Red.). Bagi yang menjalani proses presentasi (tahap dua), tentu saja kemampuan presentasi juga menjadi aspek penilaian dengan bobot yang cukup signifikan.

Kriteria Dasar Penilaian

Best e-Corp (Best IT System):

- Strategi Sukses (Success Strategy) 30%

- Tata Kelola TI (IT Governance) 20%

- Dampak Bisnis (Business Impact) 50%

Best CIO:

- Paper (75%) :

Identifikasi Masalah (20%)

Strategi dan Solusi (30%)

Hasil (50%)

- Rekam Jejak (25%)

Best Future IT Leader:

- Paper (75%) :

Identifikasi Masalah (20%)

Kontribusi (35%)

Strategi dan Solusi Jika Jadi CIO (45%)

- Rekam Jejak (25%)

Catatan:

Angka persentase

menyatakan bobot penilaian.

Proses partisipasi/nominasi ketiga kategori ini bersifat aktif (dengan inisiatif dari peserta). Pihak penyelenggara hanya mengumumkan undangan lewat iklan media cetak. Dari seleksi administratif yang dilakukan panitia, yang dinyatakan layak mengikuti tahapan penilaian juri, yakni: 25 nomine Best e-Corp; 13 nomine Best CIO; dan 9 nomine Best Future IT Leader. Mengapa nomine Best CIO dan Best Future IT Leader relatif sedikit? Karena pendaftarnya juga relatif tak banyak. Alasan yang sampai ke panitia, umumnya mereka enggan menonjolkan prestasi diri mereka sendiri. Bahkan, untuk Future IT Leader tak sedikit yang mengaku enggan karena harus beroleh izin/rekomendasi dari atasan (CIO) mereka.

Dari penilaian dewan juri – terdiri dari berbagai kalangan seperti praktisi, konsultan, serta akademisi kawakan dan kredibel di bidang TI – yang bekerja independen, hasilnya telah keluar. Tiga besar Best e-Corp (secara berturut-turut) diduduki oleh Bentoel, Telkom, dan Allianz. Lalu, kategori Best CIO, lima peringkat pertamanya diduduki (berturut-turut) oleh: Indra Utoyo (CIO Telkom), Kemal Iman Santoso (CIO Askes), Joseph Georgino Godong (CIO Bank Permata), Erwin Purwadarma (CIO Allianz), dan Yudi Rulanto (CIO Lintasarta). Untuk Best Future IT Leader, tiga peringkat pertamanya adalah Halim Sulasmono (Telkom), Yosi Widhayanti (Aplikanusa Lintasarta), dan Gustinus Bayuaji (Indosat Mega Media) Silakan lihat tabel pemenang dan skor akhir masing-masing – Red.

Tampaknya perlu disinggung, tiga pemenang pertama Best e-Corp memang tampil cukup menonjol. Bentoel hadir dengan Be-One Enterprise System, yang mampu mengintegrasikan semua sistemnya secara end-to-end. Telkom mengusung proyek Infusion, sebagai proyek transformasi TI Telkom yang memadukan sistem operating support, billing support, customer support dan ERP dalam satu kesatuan sistem. Sementara Allianz Utama mengandalkan e-Partner, sistem aplikasi yang berfungsi menghubungkan semua kanal distribusi produk Allianz – seperti bank, broker, leasing – secara online dan real time. Jadi, sekilas saja terlihat, integrasi dan konektivitas tampaknya menjadi ciri keunggulan sistem para jawara ini. Toh, finalis Best e-Corp lainnya sebenarnya juga menampilkan sistem unggulan yang tak kalah menarik dan boleh dibilang sudah di atas rata-rata kebanyakan perusahaan di Indonesia (lebih lengkapnya silakan baca: Jawara-jawara Best e-Corp – Red.)

Kesan dan catatan menarik berhasil dihimpun dari ajang ini, khususnya dari kesempatan penjurian tatap muka (tahapan presentasi). Irfan Setiaputera, salah satu juri Best e-Corp, tak menyembunyikan keterkejutannya ketika melihat sendiri mayoritas yang memimpin presentasi tim adalah para CIO langsung. “Ini menunjukkan keberadaan TI di perusahaan peserta sudah sangat penting, sudah ada alignment dengan bisnis dan bukan sekadar otomasi,” kata praktisi yang sehari-hari Presdir PT Inti ini.

Cosmas Christanmas, anggota panel juri lainnya, menilai tingkat kematangan TI para peserta (finalis) sangat beragam, tergantung pada organisasi dan jenis usaha tempat mereka berkarya. “Tetapi umumnya cukup tinggi, sebanding dengan kebutuhan perusahaan masing-masing,” kata Leading Consultant PT Citrah Cendekia Indonesia ini. Kehadiran Telkom, sebagai peserta di seluruh kategori, juga diapresiasi. Pasalnya, Telkom yang listed di bursa NYSE bisa menjadi benchmark yang bagus.

Cosmas menyebutkan, Telkom yang bermain di industri telekomunikasi – seperti halnya para pemain di industri perbankan – diuntungkan oleh kapasitas teknologi dan skala ekonomi yang cukup besar buat membiayai investasinya yang besar di bidang TI. Alhasil, perusahaan semacam ini mampu membuat terobosan dengan mengembangkan sistem TI yang terintegrasi end-to-end. Boleh jadi, karena mampu menciptakan sistem yang terintegrasi end-to-end itulah, Bentoel yang bukan dari kalangan perusahaan telekomunikasi memperoleh poin plus. “Tapi, kalau TI bukan bagian dari core business mereka, buat apa investasi TI sedemikian besar? Sebab, pemanfaatan TI juga harus sesuai dengan kebutuhan perusahaan,” kata mantan CIO PT Multi Bintang ini, buru-buru mengingatkan.

Pentingnya penggunaan TI sesuai dengan kebutuhan juga diamini oleh Irfan. Mantan Country Manager Cysco Systems Indonesia ini menyebut contoh Allianz Utama Indonesia, yang meskipun menghadapi keterbatasan aturan dari kantor pusatnya, mampu mengembangkan solusi TI yang tergolong terobosan, e-Partner.

Keragaman tingkat IT usage juga diakui Raymond Kosala, Ph.D, anggota panel juri lainnya. Head of Computer Science School Binus University ini menyebut penyebabnya terdapat peserta dari kalangan perusahaan menengah dan perusahaan besar. “IT usage di kalangan perusahaan menengah masih basis. Mereka masih berjuang dengan masalah operasional. Sedangkan perusahaan besar sudah lebih matang dari segi manajemen teknologi,” tuturnya.

Dengan alasan itu pula, Raymond mengaku tidak merasa heran bila pemenang Best CIO ataupun Best Future IT Leader berasal dari kalangan perusahaan besar. “Mereka berada di lingkungan yang tepat,” ujarnya. “Sebab, di perusahaan sekelas ini mereka bisa mengekspresikan inovasinya.”

Richard Kartawijaya, anggota dewan juri lainnya, membenarkan hal tersebut. “Dengan bekerja di perusahaan besar dan mapan, mereka mempunyai sumber daya yang cukup untuk dapat mengembangkan diri,” kata Dirut PT Informatika Solusi Bisnis ini. Ia mencontohkan peran Halim Sulasmono, pemenang I Best Future IT Leader, yang cukup menonjol dalam proses transformasi TI di Telkom. Contoh lainnya Yosi Widhayanti dari Lintasarta yang disebutnya mampu melakukan pemetaan usaha yang melibatkan user secara langsung, sehingga semua aspek bisnis dapat diukur dengan baik. “Harusnya dari sini Lintasarta bisa mendapatkan keunggulan kompetitif, terutama pada aspek manajemen account-nya,” kata mantan Presdir Microsoft Indonesia ini. Atau, Gustinus, finalis berusia muda dari IM2 yang mampu mengembangkan pengukuran kinerja pada jaringan, padahal perusahaannya tergolong belum menghargai peran unit TI-nya secara baik.

Di balik keunggulan peserta, sejumlah catatan kritis diberikan oleh para juri. Irfan, misalnya, menyoroti kendati Telkom ataupun Lintasarta punya infrastruktur TI dan sistem terintegrasi yang cukup andal, tak banyak masyarakat awam yang mengetahui. “Mestinya keunggulan seperti ini bisa dikomunikasikan,” katanya.

Raymond mengkritisi tidak menonjolnya unsur leadership para presenter (peserta). “Yang menonjol adalah keunggulan sistem TI perusahaan peserta, bukan leadership mereka. Kontribusi peserta pada perusahaan pun tidak terlalu jelas,” katanya menilai penampilan para peserta Best Future IT Leader. Khusus kategori ini, Cosmas juga melihat para peserta masih “dibayang-bayangi” oleh perusahaan dan CIO mereka. “Mereka umumnya masih cenderung sebagai orang teknis,” katanya lagi. Karena itu, untuk menjadi CIO yang andal, mereka masih membutuhkan pengembangan soft skill seperti cara berkomunikasi, wawasan bisnis, dan kepemimpinan.

Irfan malah menilai presentasi peserta umumnya buruk. “Jangan-jangan faktor ini yang membuat TI sering dianaktirikan di perusahaan,” katanya menduga-duga. “Tampaknya mereka memang masih menghadapi kesulitan memengaruhi jajaran direksi untuk menghadirkan kondisi ideal dalam implementasi solusi TI,” Richard menimpali. Soal ini, Cosmas yang kini aktif di dunia head-hunting eksekutif, punya sedikit resep. “Untuk itu, IT person harus mau keluar kandang, jangan di belakang komputer terus. Mau rajin menulis dan tampil di depan umum,” ucapnya tegas.

Ya, tak ada gading yang tak retak, baik dari sisi penyelenggaraan maupun penampilan peserta. Semua masukan baik tadi tentu berguna bagi perbaikan semua pihak di masa mendatang.

Riset: Ratu Nurul Hanifah dan Rohmat Purnadi

Reportase: Ahmad Yasir Saputra, Sigit A. Nugroho, Tutut Handayani, Kristiana Anissa

  • Share/Save/Bookmark
Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.

Powered by WordPress | Download FreeRingtones for Verizon Online. | Thanks to Highest CD Rates, Ally Bank Rates and Binaural & Isochronic Beats