Survei terhadap eksekutif TI mengenai posisi serta peran TI & CIO ini menunjukkan pergeseran yang menggembirakan: menuju posisi dan peran yang lebih strategis. Apa lagi yang bisa dipelajari dari survei ini?
Sepuluh tahun lalu, istilah jabatan chief information officer (CIO) bagi dunia bisnis Indonesia masih asing — bahkan di perusahaan berskala besar nasional. Berbeda dari sebutan CEO, CFO, ataupun COO yang sudah lebih jamak dipakai kala itu. Namun, kini jabatan yang mengepalai barisan profesional teknologi informasi ini sudah lumayan dikenal, terutama di kalangan perusahaan besar, walaupun dari segi persentasenya terhadap populasi perusahaan di Tanah Air masih jauh lebih kecil. Beberapa perusahaan — termasuk di lingkungan BUMN seperti Telkom, Bank Mandiri dan Garuda — malah menempatkan jabatan ini di level strategis, yakni di tingkat direksi (BoD). Fenomena ini sedikit-banyak memperlihatkan adanya pergeseran peran TI perusahaan dari sekadar supporting dan teknis ke arah yang lebih strategis.
Richard Kartawijaya, salah seorang juri Best e-Corp & CIO 2010, mengakui adanya fenomena ini, setidaknya melihat apa yang sudah dilakukan para finalis Best e-Corp. “Ini memang sudah terlihat di Indonesia. Lima tahun lalu, TI hanya difungsikan sebagai pendukung (supporting), tidak ikut menentukan kebijakan bisnis. Tapi, kini sudah masuk dalam manajemen,” ujar praktisi TI kawakan yang sehari-hari Dirut PT Informatika Solusi Bisnis itu.
Survei eksklusif yang dilakukan Tim Riset SWA di kalangan eksekutif/profesional TI mengenai posisi serta peran TI & CIO juga memunculkan gambaran ini. Responden survei — yang dari jenisnya boleh dibilang amat langka dilakukan di Indonesia ini– berasal dari kalangan perusahaan dari berbagai sektor di Tanah Air yang mayoritas merupakan perusahaan nasional, dengan revenue rata-rata di atas ratusan miliar rupiah. Sebagian adalah perusahaan finalis Best e-Corp. Sebanyak 32 responden yang mengisi kuesioner, separuhnya (50%) di level manajer (dari manajer TI, manajer MIS, hingga manajer TI senior). Adapun separuhnya berasal dari level GM ke atas (GM TI, CIO, hingga direktur TI). Mayoritas (50%) mempunyai jumlah anggota tim TI sebanyak 11-50 orang. Guna melengkapi pembahasan hasil survei ini, Tim SWA juga mewawancarai pengamat dan praktisi TI dan manajemen yang kebetulan menjadi juri dalam ajang kontes Best e-Corp & CIO 2010.
Dari Indonesian IT Executives Survey 2010 ini, diperoleh data hanya 9,38% responden yang menyebutkan CIO di perusahaan mereka cuma berposisi sebagai function head, yang berkonotasi pada peran teknis TI dan aspek operasional (technologist). Mayoritas menyebutkannya sebagai transformational leader (56,25%), walaupun yang sudah menilai CIO-nya di level business strategist — selevel di atas transformational leader dalam konteks survei ini — baru 31,25%. Namun, hampir seluruh responden (96,88%) menyebutkan sebaiknya CIO-nya menuju peran sebagai business strategist.
Dalam konteks ini, Engkun W. Juganda, Direktur Senior Accenture Indonesia, meyakini kalangan CIO Indonesia sebenarnya tidak kalah hebat dibandingkan CIO dari negara-negara maju. Malah, menurut juri Best e-Corp & CIO ini, CIO Indonesia cenderung lebih kreatif dan inovatif. “Dengan infrastruktur yang terbatas, tidak sedikit CIO di Indonesia yang bisa mengembangkan teknologi yang aplikatif dan memberikan manfaat yang optimal bagi perusahaannya.”
Di negara-negara maju, belakangan juga makin terlihat pergeseran peran komandan TI (CIO) yang signifikan dari seorang technologist menjadi business strategist. “Sayangnya, perubahan posisi dan peran ini belum dibarengi dengan perubahan organisasi perusahaan,” katanya menyoal masih amat sedikitnya jabatan kepala unit TI selevel direksi ataupun C-level (CIO) dilihat dari persentasenya terhadap populasi perusahaan.
Richard tidak salah. Mayoritas responden (87,50%) pun menilai kebanyakan CIO di Indonesia — bukan CIO perusahaan mereka — lebih berperan sebagai head of function. Adapun untuk peran sebagai business strategist dan transformational leader masing-masing cuma 6,25%. Berdasarkan pengalamannya, Richard memperkirakan umumnya perusahaan besar sudah memiliki sistem TI yang bagus. “Tapi, perusahaan seperti finalis Best e-Corp kan sedikit,” katanya lagi.
Yang jelas, dari survei ini, konsistensi penilaian dan harapan akan peran strategis CIO itu juga bisa dilihat dari jawaban atas berbagai pertanyaan lainnya. Lewat jawaban ganda, banyak responden (81,25%) yang menilai CIO perusahaannya sudah berpikir dan berorientasi strategis. Kebalikannya, fokus terhadap aspek pengetahuan teknis dan keahlian TI hanya disebutkan oleh 40,63% responden.
Karena itu, lewat jawaban berganda pula, sebagian besar responden (lebih dari 50%) menilai ada empat skill dan kompetensi penting yang harus dimiliki CIO, yakni: berpikir dan berorientasi strategis (93,75%), kemampuan leadership (90,63%), kolaborasi dan sinergi antardepartemen (68,75%), dan manajemen perubahan (59,38%). Kontrasnya, penguasaan teknis dan keahlian TI hanya dinilai perlu oleh minoritas responden (28,13%).
Dengan penilaian seperti di atas, wajar bila lebih dari separuh responden (di atas 50%) menilai permasalahan penting yang dihadapi unit TI dan mendesak perlu ditangani adalah meningkatkan efisiensi dan efektivitas sistem guna menunjang strategi perusahaan. Beberapa permasalahan mendesak lainnya yang rupanya mendapat perhatian signifikan dari responden (di atas 10%) adalah regenerasi dan suksesi kepemimpinan di bidang TI (28,13%), kurangnya tenaga TI yang kompeten (25,00%), serta kurangnya dukungan pemilik dan manajemen puncak (21,88%). Sebagai perbandingan, mahalnya investasi TI hanya dianggap masalah mendesak oleh 9,38% responden.
Richard menyoroti kenyataan masih kuatnya masalah kurangnya dukungan pemilik dan manajemen puncak. “Penyebabnya, karena TI masih dipandang sebagai cost center,” ujarnya menganalisis. “Ini memang tidak sepenuhnya salah. Tapi kalau dipatok mentah-mentah, problemnya IT leader jadi gamang dalam mengambil keputusan, khususnya dalam membuat allignment dengan strategi bisnis.”
Soal kurangnya tenaga TI yang kompeten, Richard menduga karena masih sedikitnya orang TI di Indonesia yang juga menguasai pengetahuan bisnis dan soft skills. Di luar itu, Engkun juga memberi catatan menarik, bahwa regenerasi dan suksesi bukan hanya penting di level manajemen TI, tetapi juga di level eksekusi. Pasalnya, pengembangan sistem (aplikasi) sering tak terdokumentasi dengan baik. Di luar negeri (negara maju) fase itu sudah terlewati karena sudah ada standar pemanfaatan dan pengembangan TI yang baku.
Berdasarkan survei ini, peningkatan produktivitas dan inovasi bisnis menjadi target utama departemen TI (50% atau lebih). Adapun penciptaan peluang bisnis baru hanya 34,38%.
Dari sisi kontribusi TI, sebagian besar masih menyumbang di aspek “tradisional” seperti akuntansi dan keuangan (75%), penjualan (68,75%), layanan pelanggan (65,63%), pengembangan SDM (65,63%) dan supply chain (logistik). Adapun aspek lain seperti perencanaan produksi serta pengembangan produk dan jasa masih minim (masing-masing 3,13%).
Yang menarik, mayoritas responden menilai level kematangan TI (IT maturity level) perusahaan mereka sudah di atas rata-rata. Yang cukup pede menilai level kematangannya tinggi 21,88%, di atas rata-rata 40,63%, dan rata-rata 37,50%. Tidak ada yang merasa rendah apalagi rendah sekali (skor level kematangan TI mereka sendiri, berdasarkan persepsi mereka, rata-rata 3,84). Mayoritas responden (68,75%) pun dengan pede menilai level kematangan TI perusahaan mereka lebih tinggi dibandingkan perusahaan lain dari sektor industri yang sama di Tanah Air.
Soal ini, Engkun mengingatkan bahwa penggunaan teknologi canggih tidak serta-merta membuat level kematangan TI sebuah perusahaan langsung tinggi. “Itu relatif. Yang penting adalah bagaimana manfaat yang bisa dipetik perusahaan tersebut,” katanya. “Jadi, kembali pada kebutuhan perusahaan masing-masing.”
Reportase: Sigit A. Nugroho
Riset: Rachmanto Aris D.

February 4th, 2010
Joko Sugiarsono 
Posted in





