
Paul Ong
Teknologi informasi sebagai pemacu produktivitas, itu sih biasa. Para pemenang ajang Best e-Corp dan Best CIO tahun ini membuktikan lebih dari itu: TI sebagai integrator proses bisnis sekaligus senjata bersaing baru bagi perusahaan.Evolusi penerapan teknologi informasi (TI) di kancah bisnis, memperlihatkan perannya yang semakin vital dan krusial. Bahkan, boleh dibilang semakin menghunjam ke jantung kegiatan bisnis itu sendiri. Di perusahaan modern, peran TI kini bukan lagi sekadar tool dan business enabler, melainkan juga terbukti mampu mengintegrasikan seluruh proses bisnis. Jadi, selain peran tradisionalnya sebagai pengefisien proses produksi barang/jasa, saat ini TI berada di garda depan untuk meningkatkan daya saing perusahaan.
PT Bentoel Prima, contohnya. Di tengah tekanan dahsyat mengurangi konsumsi rokok dan semakin dibatasinya ruang berpromosi, perusahaan rokok ini sigap berinovasi dengan mengandalkan kehebatan pemanfaatan TI-nya. Jauh hari, perusahaan ini membentuk direktorat TI yang dinamakan Direktorat Information System dan Business Process (ISBP). Disebut demikian karena direktorat ini berperan sebagai agen pengintegrasi baik dalam penerapan TI maupun keseluruhan proses bisnis dalam perusahaan.
Sejak dibentuk pada 2003, Direktorat ISBP memang ditugasi mendukung tujuan bisnis Bentoel, dengan proyek besarnya yang disebut Be-One Enterprise System. Sistem ini mengintegrasikan proses bisnis dari hulu sampai hilir, dari transaksi sampai pelaporan manajemen. Setiap data transaksi dimasukkan ke sistem Be-One sekali saja di tempat yang sedekat mungkin dengan terjadinya transaksi. Misalnya, data penjualan oleh salesman dimasukkan ke dalam PDA di lapangan saat melakukan penjualan. Pada akhir hari, seluruh transaksi diunggah (upload) secara otomatis ke sistem di Area Sales & Marketing Office, yang selanjutnya akan terkirim secara otomatis pula ke sistem di kantor pusat, sembari memperbarui (update) semua data yang terkena dampak transaksi penjualan itu.
Selain meningkatkan produktivitas setinggi 15%, sistem tersebut juga mempercepat proses data dan kecepatan proses bisnis itu sendiri. Dari segi penjualan dan pemasaran, Be-One memungkinkan instant feedback, business intelligence, serta operational excellence. Terpenting, revenue Bentoel naik signifikan. Tahun 2005, revenue Bentoel hanya Rp 2 triliun, tahun 2008 melonjak hingga Rp 6,9 triliun. Volume produksi juga melonjak, dari 6,6 miliar batang pada 2005 menjadi menjadi 17,5 miliar batang pada 2008. Demikian pula pangsa pasarnya meningkat dua kali lipat.
Berdasarkan kehebatan itulah, PT Bentoel Prima berhak meraih penghargaan sebagai Juara I Best e-Corp yang diselenggarakan SWA. Tentu saja, pemenang lain pun sangat layak Anda cermati, yakni PT Telkom (Juara II) dan PT Allianz (Juara III). Melalui hajatan yang tahun ini merupakan yang keempat kalinya, SWA memang bertekad secara rutin menampilkan best practice dalam pemanfaatan TI, agar mampu memberi acuan ataupun menginspirasi perusahaan-perusahaan lain di Indonesia yang belum mengoptimalkan pemanfaatan divisi TI mereka.
Selain memilih perusahaan penerap TI terbaik, ajang ini juga memilih Best Chief Information Officer (CIO), yang pemenangnya adalah Indra Utoyo dari PT Telkom (Juara I), Kemal Imam Santoso dari PT Askes (Juara II), Joseph Giorgino Godong dari Bank Permata (Juara III), Erwin Purwadarma dari PT Allianz (Juara IV), dan Yudi Rulanto dari PT Lintasarta (Juara V). Dari sosok-sosok inilah, para eksekutif TI di perusahaan lain diharapkan bisa belajar tentang aspek kepemimpinan dalam mengelola bidang TI yang mereka pimpin dan geluti sehari-hari. Satu benang merah yang mempertautkan para pemenang kategori Best CIO ini: Mereka mendapat dukungan penuh dari pemimpin puncak perusahaan dan menempatkan divisi TI berikut para eksekutifnya di posisi dan porsi yang strategis.
Itu jelas perlu diteladani, mengingat masih banyak perusahaan di Tanah Air yang belum berani melakukan hal tersebut. Bahkan, tak sedikit perusahaan yang membentuk bagian TI sebatas untuk gagah-gagahan. Padahal, tantangan (sekaligus peluang) para pemimpin TI dewasa ini sangat besar, di tengah kian mengglobalnya peranan TI yang dipicu oleh berkembangnya teknologi murah meriah seperti open source dan media jejaring sosial.

January 21st, 2010
Harmanto Edy Djatmiko
Posted in





