Nama Andreas Eddy Susetyo memang kalah tenar dibandingkan bankir-bankir kenamaan di Tanah Air. Maklumlah, Andreas lebih banyak berada di balik layar dan jarang sekali muncul di hadapan publik, khususnya media massa. Kendati demikian, prestasinya sering menjadi bahan diskusi dalam seminar ataupun simposium. Ya, Andreas inilah yang berhasil mengantarkan Bank Mandiri mengintegrasikan setidaknya empat platform teknologi atau core banking system.Dalam proyek tersebut, terdapat puluhan bahkan ratusan aplikasi pelengkapnya, serta mengonsolidasikan 120 sentra data dan 700 subsentra data (di cabang-cabang).Tak mengherankan, kemudian proses pengelolaan TI di Bank Mandiri dijadikan benchmarkoleh sejumlah bank besar di Asia. “Terus terang, belakangan ini kami sibuk menerima tamu dari sejumlah bank asing yang ingin belajar dari cara kami mengelola TI. Bahkan, dari bank yang berasal dari negara-negara yang lebih maju dibanding Indonesia. Kami bangga dan juga terharu,” ujar Andreas kepada SWAbeberapa waktu lalu.
Tugas yang diembannya pada tahap awal merger empat bank tersebut sangat berat, tetapi itu hanyalah sebagai solusi sementara. Tak lama kemudian, manajemen Bank Mandiri segera menempuh tahap berikutnya: mengganti sistem sementara itu dengan platform TI yang betul-betul baru, yang disiapkan untuk jangka panjang. Sistem baru ini dinamakan Enterprise Mandiri Advanced System (eMAS). Programnya dijalankan sejak 2001 dan selesai Agustus 2003, empat bulan lebih cepat dari tenggat yang dijadwalkan. Lagi-lagi Andreas ditunjuk sebagai komandan dalam megaproyek tersebut.
Boleh dibilang, eMAS merupakan arsitektur TI yang sangat kompleks dan besar, yang disiapkan agar Bank Mandiri bisa menjadi universal banking. Di dalamnya terdapat 32 proyek TI yang relatif besar, CIF, CLS, Internet, dan sebagainya. Proses roll out-nya pun dilakukan di 700 cabang, semua kantor kas dan kantor pusat. Interfaceyang dipasang tak kurang dari 18 sistem aplikasi. Lalu, data pelanggan yang diproses mencapai 6,2 juta account. Tim yang terlibat tak kurang dari 600 orang. Adapun pelatihan sistem baru itu melibatkan 14 ribu staf.
Andreas memang sangat terbiasa dengan tugas berat. Kala masih berkiprah di Bank Niaga, ia juga ditunjuk sebagai komandan Tim Y2K Perbankan Nasional. Tugas itu pun berhasil diselesaikannya dengan mulus.

January 20th, 2010
Taufik Hidayat
Posted in





