Peran CIO yang hanya mengurusi operasional TI kian usang. Survei CIO global menunjukkan pergeseran peran yang makin signifikan. Apa saja aspirasi mereka?
Bagaimanakah para Chief Information Officer (CIO) memandang peran dirinya bagi perusahaan, dan prioritas manajemen teknologi informasi (TI) tahun 2010?The State of CIO 2010 yang merupakan laporan mutakhir CIO Executive Council (CEC) memuat sejumlah hal menarik hasil survei atas 594 orang CIO global yang datang dari beragam industri. Laporan yang sebagiannya dirilis di Majalah CIO edisi 15 Desember 2009-1 Januari 2010 itu mengungkap beberapa finding yang menjadi potret bagaimana peran CIO terkini yang layak disimak.
Temuan pertama, dari survei yang digelar 2-14 September 2009 itu dinyatakan bahwa perubahan lingkungan bisnis dan TI telah mendorong munculnya tuntutan di kalangan CIO untuk mengambil peran lebih strategis. Perkembangan cloud computing, virtualisasi, dan software sebagai layanan membuat peran CIO dari waktu ke waktu tidak lagi sekadar mengurusi aspek seleksi, implementasi dan sistem running. Mereka dituntut bisa melakukan apa yang disebut enabling business success lewat TI. Dalam bahasa CEC, para CIO diharapkan bisa bergerak ke arah tipikal Business Strategist.
CEC memang membagi CIO ke dalam tiga kelompok: (1) Function Head; (2) Transformational Leader; dan (3) Business Strategist. Kelompok pertama adalah mereka yang fokus utamanya pada organisasi TI dan upaya mencapai operasional TI yang excellence. Kelompok kedua fokus utamanya lebih pada reenjiniring proses dan otomasi, bukan sekadar men-deliver jasa TI. Tipe ini berupaya menciptakan perubahan bagi perusahaannya dengan cara menciptakan kerja sama erat antardepartemen yang lintas fungsional. Kelompok ketiga adalah mereka yang berupaya menjadikan TI sebagai pendorong bisnis sekaligus keunggulan kompetitif perusahaan. Mereka fokus pada isu-isu bisnis eksternal, pelanggan dan pasar.
Dalam The State of CIO 2010, para CIO yang bergerak ke arah Business Strategist terus meningkat sekalipun masih tetap lebih sedikit dibanding tipe pertama dan kedua. Pada studi yang dilakukan tahun 2007 (The State of CIO 2008), persentase tipe ketiga hanya 12%. Tahun 2008 (The State of CIO 2009) naik jadi 18%. Pada studi tahun 2009, tipe ketiga naik jadi 21%, sedangkan Function Head mencapai 34% dan Transformational Leader 45%.
CEC adalah komunitas global yang terdiri dari ratusan CIO yang mayoritas datang dari perusahaan Fortune 500. Sebagai komunitas, mereka mengklaim sebagai kelompok yang tidak biasa dan tak punya kepentingan atau agenda tersembunyi. Pada finding yang pertama ini, CEC menyatakan bahwa kecenderungan ke arah Business Strategist itu sejalan dengan temuan kedua tentang apa saja yang menjadi 10 Leadership Competencies of CIO yang paling kritikal di tahun 2010. Bekerja sama dengan Egon Zehnder International, CEC menanyakan hal tersebut pada responden. Hasilnya, sekalipun strategic thinking, collaboration dan change leadership menjadi tiga urutan tertinggi (berturut-turut 60%, 35% dan 33%), tiga aspek lainnya yang menunjukkan tipikal Business Strategist kian meningkat persentasenya dibanding survei sebelumnya. Mereka melihat kemampuan mencapai tujuan bisnis, mengidentifikasi peluang komersial dan perhatian pada pelanggan semakin diperlukan. Dalam bahasa lain, para CIO kini juga put a priority on understanding how to make money (selengkapnya lihat: Tabel 1).
Tabel 1. Leadership Competencies of CIO
| Most critical leadership competencies | 2009 | 2010 |
| Meeting or beating business goals | 18% | 30% |
| Identifying and seizing on commercial opportunities | 6% | 22% |
| External customer focus | 9% | 18% |
CEC bahkan menemukan bahwa hanya 30% dari CIO yang menyatakan bahwa expertise in running the IT function sebagai leadership competencies yang kritikal. Ini merupakan persentase terendah dalam tiga tahun terakhir. The State of CIO 2010 merupakan studi yang ke-9 kalinya digelar oleh CEC.
Fakta ini membuat CEC merilis pernyataan bahwa ada pergeseran kuat di kalangan CIO. “Shifting from primarily running IT operations towards enabling transformation and influencing business strategies through knowledge of IT capabilities married with an understanding of business needs.” Begitu pernyataannya.
Pernyataan ini membuat peran CIO yang hanya berkutat pada TI dan seolah-olah terlepas dari pemahaman bisnis perusahaan adalah peran yang kuno. Usang. Hal ini pula sejalan dengan temuan ketiga ketika membahas How IT Contributes. Kendati para CIO masih memusatkan perhatian pada efisiensi, aspek menggunakan TI untuk menyempurnakan produk dan terhubung dengan pelanggan terus mendapat perhatian yang besar. Setidaknya ada empat hal yang meningkat persentasenya ketika membicarakan hal ini, yakni: Improve quality of products and/or processes (53%); Provide innovative new market offerings or business practices (39%); Manage customer relationships (34%) dan Acquire and retain customers (25%). Lihat: Tabel 2.
Tabel 2. How IT Contributes
| Expected Accomplishments | 2009 | 2010 |
| Improve end user workforce productivity | 49% | 63% |
| Lower company operating costs | 39% | 58% |
| Re-engineer core business processes | 41% | 53% |
| Improve quality of products and/or processes | 35% | 53% |
| Provide innovative new market offerings or business practices | 38% | 39% |
| Improve security and risk management | 26% | 34% |
| Manage customer relationships | 18% | 34% |
| Acquire and retain customers | 18% | 25% |
| Support global expansion | 23% | 19% |
| Enable regulatory compliance | 12% | 18% |
Paparan bahwa terjadi apa yang disebut CEC sebagai Shift Toward Business Strategists ini kian dikuatkan dengan finding keempat, yakni ketika membahas IT Management Priorities in 2010. Prioritas pertama ternyata bukan lagi mengontrol biaya, melainkan menyelaraskan antara TI dengan tujuan perusahaan (75%). Mengontrol biaya menjadi peringkat kedua. Selengkapnya, lihat: Tabel 3.
Tabel 3. IT Management Priorities in 2010
| Top five management priorities for 2010 | 2010 | |
| 1 | Aligning IT and business goals | 76% |
| 2 | Controlling IT costs | 63% |
| 3 | IT governance & portfolio management | 54% |
| 4 | Business process redesign | 54% |
| 5 | Leadership development/staff training | 44% |
| 6 | Marketing/articulating IT value/business contribution | 43% |
| 7 | Rationalizing/centralizing the application portfolio | 35% |
| 8 | Protecting customer data privacy | 25% |
| 9 | Scaling IT globally | 23% |
| 10 | Regulatory compliance | 22% |
Pertanyaannya kini: apakah suara tersebut cuma temuan CEC belaka?
Ternyata tidak. Sebelumnya, pada 10 September 2009, IBM merilis survei mereka pada 2.500 CIO dari 78 negara. Hasilnya senapas dengan temuan CEC. Pada laporan IBM yang dilabeli The New Voice of the CIO, terungkap bahwa CIO masa kini semakin menyadari agenda mereka tidak semata dibentuk faktor internal, melainkan juga kekuatan eksternal. Studi itu pula memaparkan bahwa CIO fokus pada tiga tujuan utama mereka: (1) to make innovation real; (2) raise the ROI of IT; dan (3) expand business impact. Terlihat betapa napas orientasi bisnis menjadi orientasi mereka.
Dari studi IBM, hal tersebut ternyata konsisten karena didukung fakta lain: 55% waktu dari CIO digunakan untuk sejumlah aktivitas yang berbau bisnis yaitu rolling out teknologi baru dan inisiatif bisnis. Kemudian 55% CIO juga melihat bahwa perubahan bisnis model menjadi tantangan utama mereka. Bahkan dari 158 CIO perusahaan kelas menengah yang menjadi partisipan survei ini mengungkap bahwa mereka menggunakan teknologi sebagai diferensiator kompetitif dan memosisikan TI untuk mendorong ide-ide inovatif.
Dari studi global di atas terlihat betapa era CIO yang berkutat pada persoalan TI dan teknis semata – atau disebut CEC sebagai fokus pada IT operational excellence – memang terus memudar. CIO kini ingin – dan juga diharapkan – dapat berperan lebih strategis: memainkan TI sebagai business driver, bukan lagi business support dan business enabler. Tentunya suara CIO global ini juga melanda pada CIO lokal di negeri ini.
Riset: Ratu Nurul Hanifah

January 19th, 2010
Teguh S. Pambudi
Posted in





