Panjiva, Mercusuar Informasi Dunia Industri

Tren globalisasi dan multisourcing membuat banyak perusahaan besar di dunia punya ketergantungan rantai pasokan terhadap kalangan overseas supplier. Sayangnya, ada risiko besar, yakni terbatasnya informasi mengenai para pemasok itu. Maka, kehadiran Panjiva  bak oase di tengah dahaga.
Joko Sugiarsono

1 November 2008, di Dongguan, Cina. Hingga tengah hari, tak ada tanda-tanda bakal ada peristiwa istimewa di kantor pusat sekaligus pabrik sepatu China Top Industries ini.  Para buruh masih bekerja serius.  Sibuk, seperti biasa. Namun, begitu siang tergelincir menuju sore, para karyawan kaget setengah mati.  Sang chairman perusahaan  tiba-tiba saja mengumumkan penutupan pabrik sepatu ini, saat itu juga.  Dengan rada akrobatik, ia bahkan memanjat tembok yang mengitari pabrik itu, dan melarikan diri. Tinggallah para karyawan yang terbengong-bengong. Pabrik sepatu yang memasok produknya ke Amerika Serikat ini ditutup dengan meninggalkan timbunan utang.

Pengumuman tutupnya perusahaan tersebut jelas mengagetkan banyak pihak, mulai dari 2 ribu karyawannya (yang pagi itu datang bekerja dengan merasa pekerjaan mereka aman-aman saja) hingga para pelanggannya, perusahaan-perusahaan di AS (yang tiba-tiba saja mata rantai pasokannya terputus).

Hampir tak ada yang menduga hal ini bakal terjadi.  Kecuali, satu orang di New York City, yakni Josh Green.  Dia adalah Co-Founder dan CEO Panjiva, perusahaan start-up yang menyediakan data dan analisis mengenai kondisi pemasok mancanegara buat industri aparel AS.  “Sejak 1 Oktober, menurut data kami, output China Top sudah anjlok,” kata Green.  “Jadi, kami sudah punya indikator yang benar untuk satu bulan ke depan,” ia menambahkan.

Ya, Panjiva bisa melakukannya karena menggunakan database software yang powerful, yang mampu mengolah segunung informasi – kebanyakan berasal dari lembaga pemerintah di AS – menjadi analisis detail mengenai kualitas,  kesehatan finansial, hingga tanggung jawab sosial perusahaan pemasok dari mancanegara.

Bukan rahasia lagi, sejalan dengan era globalisasi, makin banyak perusahaan di berbagai negara yang melakukan bisnis dan transaksi lintas negara (cross-border transaction). Banyak pula perusahaan multinasional besar dan pemilik merek ternama yang memutuskan tak lagi membuat sendiri produknya. Mereka memilih mengalihdayakan – baik produksi barang setengah jadi maupun barang siap jual – ke pabrik di negara yang biaya produksi dan tenaga kerjanya lebih murah, seperti Cina dan negara-negara Asia lainnya.

Berbisnis dengan pemasok  mancanegara ini, harus diakui, ternyata menyimpan risiko tinggi.  Seberapa jauh perusahaan klien mengenal rekam jejak dan peluang keberlanjutan usaha pemasok asing ini?  Apalagi, kalau pemasok ini berasal dari negara yang akurasi data bisnisnya masih diragukan. Hampir tiadanya, atau paling tidak terbatasnya management tool untuk mengukur risiko berbisnis dengan mitra pemasok inilah yang menjadi masalah. Maka, supply chain/procurement manager hingga kini terpaksa menerima risiko, yakni mengelola bisnis dengan suasana hati penuh kekhawatiran, atau demi meminimalkan risiko harus mampu bernegosiasi guna memperoleh harga lebih rendah.

Ambil contoh kasus China Top tadi.  Bisa dibayangkan kesulitan yang dihadapi perusahaan aparel AS yang menjadi kliennya lantaran pemasok yang diandalkan tiba-tiba tutup. Sebab, berapa banyak order dari para end user yang tiba-tiba juga tak bisa dipenuhi.  Padahal, perusahaan pemasok dengan status tak begitu dipahami seperti halnya China Top bukan cuma satu. Apalagi, sejalan dengan tren multisourcing, masing-masing perusahaan besar biasanya juga tergantung pada banyak mitra pemasok dari pelbagai negara.

Pada 11 Maret 2009, Panjiva baru saja merilis daftar Manufacturer Watch List mutakhir (merupakan bagian dari fasilitas Panjiva Alerts Service).  Perlu diketahui, Watch List ini bisa dipakai kalangan perusahaan pembeli (buyer) di AS dalam mengelola risiko bisnisnya, dengan membedakan antara pemasok berisiko (risky manufacturer/supplier) dengan pemasok sehat (healthy supplier).  Yang dimasukkan ke dalam Watch List adalah pemasok (asing) yang menurun volume pengiriman barangnya ke pelanggan di AS sebesar 50% atau lebih dalam tiga bulan terakhir, dibanding periode yang sama tahun lalu.

Untuk menganalisis hal ini, Panjiva menggunakan data pengiriman barang milik  Kepabeanan AS, dari pemasok besar ke pembeli besar di AS (yakni mereka yang mengirim/menerima barang 10 kali atau lebih dalam setahun.  Beberapa hasil temuannya, yakni:  hampir separuh dari pembeli signifikan (47%) ternyata melakukan bisnis dengan pemasok yang termasuk dalam  Watch List dalam 6 bulan terakhir;  lebih dari sepertiga pembeli besar ini (38%) berbisnis dengan pemasok di Watch List dalam tiga bulan terakhir;  dan yang tak kalah penting, ternyata lebih dari seperempat pemasok besar (28%) masuk dalam Watch List.  “Angka-angka ini mengungkapkan banyaknya perusahaan di AS yang berbisnis dengan pemasok bermasalah,” kata Green memberi ulasan.

Dari sebuah survei yang dilakukan pada 2008, Aberdeen Group menemukan bahwa 99% perusahaan respondennya mengalami setidaknya satu gangguan dalam rantai pasokan. Termasuk, 56% yang menyebutkan pemasok mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan, dan 39% yang mengatakan kiriman mereka tertunda atau rusak.

Perusahaan yang menjalankan konsep global sourcing jelas menghadapi  risiko besar berupa gangguan rantai pasokan (supply chain disruption).  Misalnya, karena pemasok andalannya berhenti berproduksi.  Nah, tutupnya perusahaan pemasok bisa disebabkan kondisi keuangannya memang morat-marit (yang sayangnya tak mudah dideteksi sejak dini), ditimpa bencana alam, atau krisis dan resesi ekonomi global seperti terjadi saat ini.  Dengan demikian, risiko supply chain saat ini makin besar dibanding sebelumnya. Tanda-tandanya sudah diperlihatkan melalui analisis Panjiva dengan melihat data pengiriman barang  pemasok kuartal IV/2007 dan kuartal IV/2008 untuk seluruh industri.  Temuan Panjiva memperlihatkan ada penurunan sebesar 13% dari jumlah pengiriman barang ke AS dari pemasok global sejak Oktober 2007. Selain itu, 12% dari pemasok global itu mengalami penurunan volume bisnis 50% dibanding kuartal yang sama tahun lalu.

Menurut Green, sebenarnya banyak jenis informasi yang perlu diketahui dari pemasok yang menjadi rekan bisnis. Paling tidak, ada tiga jenis informasi penting, yakni:  data finansial, data operasional, dan data dari lapangan (on-the-ground intelligence).

Data finansial pemasok kadang-kadang bisa diperoleh dari lembaga penilai risiko kredit internasional seperti Dun&Bradstreet (D&B) atau semacamnya. Data ini misalnya untuk mengetahui apakah pemasok tidak membayar tagihannya, yang menjadi pertanda adanya masalah finansial. Data operasional antara lain bisa dilihat dari data pengiriman barang (sebagaimana bisa diperoleh dari kepabeanan).  Sebagai contoh, bila  pelanggan pemasok itu mengurangi order mereka secara signifikan, boleh jadi bisnis si pemasok tak akan bertahan lama. Menurut Green, akan lebih baik bila perusahaan punya orang yang terjun ke lapangan (fasilitas milik pemasok, semisal pabriknya). Dari sini, bisa diketahui apakah pemasok melakukan pengurangan karyawan atau aktivitas menurunkan tingkat produksi – sebagai sinyal adanya masalah di perusahaan itu.

Sayangnya, data finansial tak selalu tersedia.  Apalagi mengenai perusahaan pemasok. Data operasional tak mudah diketahui secara persis, terutama menyangkut sense of business di negaranya.  Dan, menurunkan “mata-mata” pencari data ke lokasi pemasok, selain mahal, juga terkadang tak mungkin dilakukan, terutama untuk pemasok di mancanegara.

Kesulitan seperti itu dirasakan banyak perusahaan. Ambil contoh Kellwood – raksasa aparel beromset US$ 2 miliar yang memasarkan merek top seperti Calvin Klein dan Phat Farm – yang mulanya berupaya mengumpulkan sendiri data pemasoknya dengan membentuk tim beranggota empat orang.  Proses pencarian data yang dibutuhkan ternyata memakan waktu.  “Dan data yang mereka temukan juga tak keruan,” ujar Jeff Streader, eksekutif yang bertanggung jawab meng-update data sekumpulan pemasok Kellwood.

Nah, kehadiran Panjiva pada 2006 (yang dibidani dua sekawan Josh Green dan James Psota) dengan layanan data dan analisisnya mengenai profil pemasok mancanegara seolah-olah menjadi oase bagi dahaga kalangan buyer, khususnya di AS.  Maka, ketimbang pusing, perusahaan seperti Kellwood memutuskan untuk menjadi pelanggan data dan informasi dari Panjiva. Nama besar lainnya yang kini menjadi klien serius Panjiva adalah Reebok, Elie Tahari, J.Crew, dan Wal-Mart. Hingga saat ini, ada sekitar 90 perusahaan aparel AS yang menjadi kliennya.

Nyatanya, Panjiva tidak hanya membantu eksekutif seperti Streader menemukan pemasok baru, tetapi juga memberi pengetahuan mengenai perusahaan-perusahaan yang selama ini menjadi mitra kerjanya.  “Maklumlah, ada orang-orang yang suka membesar-besarkan bisnis mereka lebih dari kenyataannya,” kata Green.  Streader sendiri kini telah pindah kerja ke Guess dan mengepalai divisi global sourcing.  Ia pun membawa perusahaan barunya ini menjadi klien Panjiva.

Kelahiran Panjiva juga bermula dari masalah yang dihadapi Green di masa lalu kariernya.  Pada 2005,  Green yang bekerja di perusahaan elektronik E Ink diminta bosnya mencari pemasok komponen di Cina.  Ia bingung.  Bagaimana caranya?  Ia tak keberatan terbang ke sana, tetapi tempat mana yang hendak dituju?  Mengandalkan “Paman Google” untuk menjawab kebutuhannya juga tak bisa, karena tak ada data soal reliabilitas dan standar kerja pemasok.  “Saya betul-betul tercengang ketika menyadari kurangnya informasi dan kejelasan data mengenai perusahaan-perusahaan yang akan diajak berbisnis,” katanya mengenang. Saudara perempuannya yang bekerja di industri aparel, rupanya mengalami masalah serupa.

Ide solusi muncul ketika Green duduk mengobrol dengan James Psota, kawannya yang pakar komputer di MIT.  Setelah mendiskusikan masalahnya, Psota yang kini Chief Technical Officer Panjiva, kala itu merasa mampu mendesain software yang mendukung kebutuhan importasi sebagaimana Google menyediakan untuk pengguna Web, yakni sebuah mesin pencari yang lebih pintar.  Dari diskusi ini, keduanya sepakat mengembangkan sistem tersebut, sehingga lahirlah Panjiva pada 2006.

Mereka memulainya dengan industri aparel,  dengan mengumpulkan data dari lebih 200 sumber, mulai dari pemerintah, lembaga nonprofit, dan  lembaga sertifikasi (certifier) swasta. Data ini kemudian didigitalisasi, dibersihkan, disatukan dan disusun, sehingga menghasilkan gambaran yang lebih detail mengenai 70 ribu pemasok.  Masing-masing diperingkat dan diskor 1-100 berdasarkan beberapa kriteria, misalnya: rekam jejak pemasok; lingkungan mereka; dan pengalaman melayani pasar AS.  Dari data matang yang sudah diolah inilah Panjiva beroleh fulus. Yakni dengan mengenakan biaya berlangganan database dan menjual laporan mengenai profil pemasok tertentu secara khusus.

Melihat model bisnisnya, Panjiva itu mirip jasa online dating (kencan online), yakni menghubungkan kalangan bisnis AS dengan pemasok dari luar negeri, sesuai dengan tingkat kebutuhannya. “Seperti dimaklumi, bisnis aparel itu tergantung pada kontak (hubungan) dan kepercayaan,” ujar Jeff Silberman, Kepala Jurusan Pengembangan dan Pemasaran Fashion Institute of Technology di New York, yang mahasiswanya juga menggunakan sistem Panjiva.

Bisnis Panjiva sekilas mirip dengan Alibaba,  online marketplace yang menghubungkan kalangan pabrikan di Cina (yang berarti berperan selaku pemasok)  dengan pembeli besar (wholesaler) di AS.  Hanya saja  bedanya, karena sebagai online marketplace yang menghubungkan  pemasok dan pembelinya, Alibaba tidak memverifikasi informasi atau data yang disediakan perusahaan-perusahaan yang ada dalam daftarnya.

Yang pasti, model bisnis Panjiva ternyata cukup menarik minat sejumlah investor, mulai dari ikon industri fashion (Diane von Furstenberg), ekonom ternama (mantan Menteri Keuangan AS Larry Summers), hingga pemodal ventura (semisal Battery Ventures yang ikut memercayakan US$ jutaan untuk pengembangan Panjiva).

Meski usianya masih seumur jagung, Panjiva telah membuktikan keberadaannya yang penting, dengan sukses menggaet sejumlah nama besar sebagai kliennya.   Apa kunci suksesnya?  Tak lain, data yang disediakan Panjiva bisa dipercaya. Di AS, karena sumber datanya yang variatif dan kredibel, kecil kemungkinan kalangan perusahaan (pemasok) memanipulasi data yang akan di-input Panjiva.  Di antara sumbernya, yakni Department of Homeland Security, dan lembaga monitoring nonprofit seperti Worldwide Responsible Accredited Production.

Bagaimana data pasar dari Cina?  Nah, inilah yang terus terang masih mengundang tanya. Pasalnya, laporan dari lembaga pemerintah pun ditengarai belum bisa dipercaya benar. Padahal harus diakui, Cina sebagai penyumbang pemasok terbesar untuk industri aparel AS.

Memang, kelanggengan bisnis Panjiva tergantung pada kekuatannya dalam menyediakan data yang terverifikasi. “Apabila peringkat yang diberikan tidak tepat, bakal hancurlah reputasinya,” ujar Christine Bullen, Presiden Global Sourcing Council yang fokus pada masalah sourcing dan social responsibility.

Menurut Green, Panjiva berusaha peduli dengan masalah tersebut.  Soal  sumber data,  ia menyebutkan,  Panjiva menggunakan dua kriteria yang harus dilewati. Pertama, adakah insentif bagi penyedia data untuk memanipulasi data? Kedua, mungkinkah manipulasi data itu tidak diketahui? “Jika jawaban untuk kedua pertanyaan itu ‘yes’, maka kami tak akan memasukkannya sebagai sumber data (data source),” kata Green. “Yang jelas, kami selalu transparan mengenai sumber data kami, sehingga para pengguna bisa memutuskan  (akankah menggunakan data tersebut),” katanya lagi.

Dua sekawan Green dan Psota  tampaknya belum puas dengan hanya menggarap industri fashion. Green mengaku sudah berdiskusi dengan pemain bisnis dari kalangan industri makanan, peralatan rumah tangga, dan peralatan kantor. Dia sendiri mengharapkan database Panjiva nantinya bisa menyediakan profil jutaan pemasok dari seluruh dunia untuk  berbagai industri.  “Selama bertahun-tahun orang menjalankan bisnis antarnegara dengan dasar kepercayaan.  Sekarang,  Anda perlu menambahkan unsur informasi. Jika tidak,  terpaksa Anda menjalankan bisnis (lintas negara) ini dengan meraba-raba,” Green berujar.

Riset: Sarah Ratna Herni

  • Share/Save/Bookmark
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

 
Powered by WordPress | Download FreeRingtones for Verizon Online. | Thanks to Highest CD Rates, Ally Bank Rates and Binaural & Isochronic Beats