Pentingnya Mengukur Value Investasi TI

Show me the money… (Jerry McGuire).

Seberapa yakinkah Anda akan manfaat TI terhadap keunggulan bersaing (competitive advantage) bagi perusahaan? Pertanyaan ini dapat ditulis ulang dalam versi yang lebih tajam, yaitu: Seberapa besar pengaruh investasi TI terhadap peningkatan value perusahaan?

Hanny Santoso

Sebagian besar masyarakat bisnis masih meyakini bahwa teori manajemen strategis populer dari begawan Michael Porter sebagai salah satu teori yang masih relevan saat ini. Porter yakin untuk mampu memenangi persaingan, perusahaan harus memiliki minimal satu dari tiga strategi generik: menjadi cost-leader, membuat diferensiasi, dan fokus mengincar pasar ceruk (niche market) tertentu.

Sebelum adanya TI, barangkali teori “pilih satu” ini masih dapat dianggap benar. Kenyataannya, kadang-kadang TI malah dapat membantu perusahaan melakukan ketiga-tiganya sekaligus. Dell.com dan Amazon.com misalnya, sembari memangkas proses bisnis menjadi sangat efisien, mereka juga menjadikan biaya operasional murah. Demikian pula, diferensiasinya sangat menawan. Pelayanan belanja via Amazon sangat individualis, berorientasi pelanggan, sarat informasi berharga sebagai panduan membeli, lengkap informasinya, dan harganya lebih murah.

Bagi sebagian perusahaan, TI merupakan diferensiasi penting. Namun, perlu diingat pula bahwa diferensiasi amat terkait dengan keunikan. Dengan kata lain, apabila diferensiasi Anda mudah ditiru pesaing, maka hilanglah diferensiasi Anda itu karena tidak unik lagi. Contoh termudah, pemberian fasilitas e-mail yang tadinya menjadi killer-apps dan diferensiasi, tetapi karena mudah ditiru maka menjadi tidak unik lagi — semua situs dotcom mulai menawarkan fasilitas e-mail gratis.

Mei 2003, artikel Nick J. Carr yang berjudul IT Doesn’t Matter di Harvard Business Review sempat menimbulkan polemik berkepanjangan. Tak urung banyak praktisi ataupun pengamat TI seperti John Hagel, Paul Strassman, Warren McFarlan turut berdebat. Lewat tulisan ini, Nick berujar bahwa sebenarnya saat ini TI bukan lagi diferensiasi yang memberi keunggulan kompetitif bagi perusahaan. Ia melihat TI telah menjadi komoditas dan bukan merupakan diferensiasi lagi. TI tak ubahnya perangkat infrastruktur lain seperti listrik ataupun rel kereta api. Lebih lanjut Nick juga menyarankan agar perusahaan lebih baik menjadi follower dan menghindari inovasi dengan memaksakan diri menjadi leader dalam hal berinvestasi TI.

Kolom ini tidak akan membahas polemik artikel Carr secara lebih detail, melainkan memosisikan artikel Carr sebagai provokasi yang relevan terhadap pentingnya melakukan alignment antara investasi TI dengan value yang dihasilkan. Belakangan ini, investasi TI kian dirasakan makin tinggi biayanya, terutama untuk aplikasi canggih semisal SCM, ERP, Business Intelligence, CRM, dan sebagainya. Bagi sebagian perusahaan implementor, hasil yang diperoleh tak kunjung memuaskan. Dalam berbagai survei, angka 70% malah diterima sebagai kompromi atas kegagalan yang telah diterima bersama dalam berbagai proyek TI. Standish Group menyatakan hanya 10% perusahaan yang berhasil menerapkan ERP, 35% proyek dibatalkan dan 55% mengalami keterlambatan. Meta Group menyatakan 55%-75% proyek CRM gagal. CRM Forum menyatakan lebih dari 50% proyek CRM di Amerika Serikat, dan lebih dari 85% di Eropa dianggap gagal. Walaupun demikian, survei dari Morgan Stanley terhadap 225 CIO di tahun 2002 menunjukkan bahwa 80% dari mereka tetap merencanakan proyek TI baru dan banyak yang memprioritaskan CRM.

Harga aplikasi-aplikasi tersebut cukup tinggi sebab bukan merupakan aplikasi komputer biasa, melainkan telah melibatkan dan menyelaraskan proses bisnis kompleks dari fungsi-fungsi bisnis holistik dalam perusahaan. Di sini peran TI bukan hanya untuk support dan otomasi, tetapi telah menjadi business enabler. Vendor dan konsultan aplikasi TI sendiri, terkadang dalam menjual aplikasinya, mempromosikan sebagai solusi sempurna untuk semua masalah perusahaan. Padahal, kesuksesan aplikasi bersifat enabler justru sangat bergantung pula pada willingness dan peran serta perusahaan itu untuk berubah. Tak jarang aplikasi mahal tidak dapat digunakan sebab pengguna tidak siap berubah.

Dari sisi perhitungan finansial, dengan semakin tingginya investasi TI, maka dengan sendirinya TI harus mampu menciptakan value yang tinggi setelah diimplementasi dalam waktu yang singkat, sesuai dengan prinsip ROI. Bila kini mulai banyak diperbincangkan hubungan antara besarnya investasi TI dengan value yang dihasilkan, sangat masuk akal. Tekanan ekonomi global dan finansial perusahaan menyebabkan biaya belanja TI harus terkontrol secara efisien.

Metode finansial generik/tradisional semacam Cash Flow, NPV, ROI, ROA, dapat memberikan gambaran manfaat terhadap nilai investasi fisik TI-nya. Pertanyaannya, bagaimana menghitung value informasi yang dihasilkan dari investasi TI itu sendiri? Sebagaimana kita ketahui, informasi merupakan hal abstrak dan sulit diukur.

Maka, untuk mengukur manfaat investasi TI dibutuhkan metode yang lebih spesifik, seperti Information Economics, Total Cost of Ownership (TCO), Total Value of Ownership (TVO), Information Value Added, Information Productivity, dan sebagainya. TCO lebih fokus menghitung investasi TI dari segi biaya, sebaliknya TVO lebih banyak mengukur manfaat atau value yang diperoleh pelanggan. TCO dapat dikatakan punya sasaran pada ROI. Adapun TVO lebih ke arah return of customer satisfaction, yaitu seberapa besar hasil implementasi TI dipandang sangat bermanfaat oleh para pelanggan, sehingga pada saatnya nanti, secara tidak langsung bila seorang pelanggan puas misalnya, maka ia akan memberikan testimoni positif ataupun membantu perusahaan yang bersangkutan dengan promosi word-of-mouth ke calon pelanggan lain.

Dalam semangat corporate governance yang kian menghangat belakangan, tidaklah berlebihan, IT Governance juga turut mengemuka sebagai bagian risiko yang yang harus dikelola dan diperhitungkan dengan baik. Overspending terhadap TI hanya karena strategi me too tanpa matriks terhadap kinerja yang jelas dan terencana merupakan kecerobohan, terlebih lagi bila value yang dihasilkan tidak diperhitungkan dengan baik. Bukankah prinsip kehati-hatian (prudent) merupakan tindakan yang amat bijak?

________________________________________________________________________

Direktur Program MM/MBA bidang manajemen sistem informasi & pusat pengembangan produk, BiNus Graduate School of Business (XXX).

  • Share/Save/Bookmark
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

 
Powered by WordPress | Download FreeRingtones for Verizon Online. | Thanks to Highest CD Rates, Ally Bank Rates and Binaural & Isochronic Beats