Bukan Lagi Sekadar Gagah-gagahan

Selain memangkas biaya dan waktu, penerapan TI juga mampu menciptakan peluang-peluang bisnis baru. Penerapan TI yang baik dan benar pun tidak selalu menelan dana besar. Para jawara telah membuktikannya.

Harmanto Edy Djatmiko

Kemajuan teknologi informasi (TI) — seperti halnya teknologi lainnya — selalu membawa ekses. Gejala yang cukup umum kita saksikan kini, misalnya, menerapkan TI hanya untuk gagah-gagahan, sehingga merebaklah sindrom shelfware alias software dan hardware tapi tak terpakai. Fenomena ini sangat mudah dijelaskan karena akarnya bukan pada teknologinya, melainkan pada manusianya. Ya, siapa orangnya yang tak tersanjung bila dipandang sebagai pribadi yang selalu in dengan zamannya?

Dalam bentuk yang lebih kolektif, perusahaan mana yang tak bangga jika memiliki sejumlah aplikasi modern dan sophisticated seperti ERP, CRM, SCM, Business Intelligent, dan entah apa lagi namanya. Bagaimana tidak dianggap hebat, selain beragam aplikasi itu memang berkelas dunia, biaya yang dikeluarkan untuk penerapannya juga terbilang mahal.

Mahalnya biaya aplikasi-aplikasi tersebut karena teknologi yang ditawarkan bukan lagi sebatas komputerisasi kantor, tetapi juga mencakup penataan dan penyesuaian seluruh fungsi bisnis dalam suatu perusahaan hingga menjadi proses bisnis yang menyeluruh dan padu. Dalam bahasa yang lebih keren, peran TI tidak sebatas men-support suatu aktivitas bisnis, terlebih lagi justru sebagai business enabler. Hebat kan? Oh ya, janji seperti ini tentu saja sering pula didengungkan oleh para vendor dan konsultan aplikasi TI untuk menawarkan dagangan mereka.

Namun, hasil yang didapat dari investasi besar untuk membeli teknologi itu ternyata kurang memuaskan, kalau tak mau dibilang malah cuma menghambur-hamburkan uang. Beberapa survei bahkan sepakat menyimpulkan, taraf kegagalan berbagai proyek penerapan TI mencapai 70%. Standish Group menyatakan — seperti diungkap di bagian lain Sajian Utama ini — cuma 10% perusahaan yang berhasil mengaplikasikan ERP, 35% proyek dibatalkan dan 55% mengalami keterlambatan. Meta Group mengungkapkan, 55%-75% proyek CRM gagal. Sementara itu, CRM Forum menyatakan bahwa lebih dari 50% proyek CRM di Amerika Serikat dan 85% proyek serupa di Eropa dinilai gagal.

Semuram itukah keadaannya? Barangkali ya. Namun, semuram apa pun keadaannya, selalu ada cahaya yang bisa dijadikan suluh. Dan cahaya itu, siapa lagi kalau bukan mereka yang telah sukses menerapkan aplikasi TI. Dari merekalah, perusahaan-perusahaan lain bisa belajar langkah demi langkah serta tahap-tahap dalam proses penerapan TI. Bagaimana mereka memulainya, apa saja kendala dan hambatan yang muncul, serta bagaimana mereka akhirnya menemukan solusi yang tepat dan khas.

Yang juga mesti diperhatikan, sesuai anjuran para pakar TI, perusahaan zaman kini tak cukup lagi sekadar menerapkan aplikasi yang basic (sering diistilahkan sebatas “kebutuhan fisik minimum”). Agar dana besar yang dikeluarkan untuk investasi di TI tidak menguap begitu saja, penerapan TI harus mampu menciptakan value untuk customer, baik internal maupun eksternal.

Artinya, persepsi keberhasilan penerapan TI di mata customer jauh lebih penting ketimbang di mata vendor ataupun konsultan. Itu sebabnya, peran TI untuk menciptakan value bagi para customer-nya merupakan unsur terpenting yang secara gamblang memperlihatkan, apakah sistem TI yang diimplementasikan suatu perusahaan layak dinilai “sudah di atas biasa” ataukah belum.

Value lain yang bisa dipetik perusahaan, selain value populer seperti efisiensi biaya dan waktu, penerapan TI juga mampu menciptakan diferensiasi dan sanggup membidik ceruk pasar (niche) dengan biaya yang amat murah. Ini artinya, penerapan TI yang baik dan akurat malah mampu menciptakan peluang-peluang bisnis baru. Dan, seperti akan Anda baca pada tulisan Sajian Utama setelah ini, mereka yang sukses dalam hal ini ternyata tidak melulu perusahaan skala besar. Terungkap pula, penerapan TI yang baik dan benar pun tidak selamanya menyedot dana raksasa.

Kunci dari semua itu adalah satu: kesediaan berubah dan menyesuaikan diri dengan situasi dan lingkungan baru setelah diterapkannya sistem atau aplikasi TI yang baru. Ini harus diawali di level manajemen, yang kemudian ditularkan ke seluruh jajaran karyawan. Untuk berubah memang butuh energi dan kerendahan hati untuk bersikap seperti kanak-kanak yang selalu bergairah untuk mengetahui dan memaknai hal-hal baru.

Itulah yang melandasi SWA mengungkap 25 perusahaan yang — melalui penerapan TI yang tepat dan cermat — terbukti mampu menciptakan value bagi customer-nya (internal ataupun eksternal), serta memanfaatkannya sebagai senjata bersaing dan menciptakan beragam peluang bisnis baru. Tujuannya, tentu saja agar semakin banyak perusahaan di Indonesia yang mengikuti jejak mereka.

  • Share/Save/Bookmark
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

 
Powered by WordPress | Download FreeRingtones for Verizon Online. | Thanks to Highest CD Rates, Ally Bank Rates and Binaural & Isochronic Beats