Mencari perusahaan-perusahaan yang berhasil memanfaatkan TI dengan baik ternyata bukan soal mudah. Siapa saja yang terpilih sebagai The Best 25 tahun ini? Apa saja keunggulan mereka?
Joko Sugiarsono
Nama Hailai International Executive Club bagi pelanggannya bisa dibilang sudah menjadi jaminan mutu. Bukan hanya lantaran ia pernah menjadi salah satu landmark pusat hiburan dan resto kelas atas bagi kalangan eksekutif (khususnya warga keturunan) di Jakarta, tapi juga memang kualitas pelayanannya. Ketika para kompetitornya yang beroperasi sejak 1970-an sudah berguguran, Hailai kini malah sering kebanjiran pengunjung, yakni mencapai ribuan orang semalam, terutama di akhir pekan.
Salah satu rahasianya yang kasat mata adalah kecepatan layanan restonya, yang menyajikan hingga sekitar 5 ribu jenis menu. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya para pelayan resto Hailai jika ribuan konsumen datang bersamaan. Apalagi, cukup banyak pelanggannya yang bertipikal tidak sabaran dan punya banyak mau. Sudah begitu, hidangan harus tersaji dalam 10 menit . Arena kongko yang dilayani juga tiga lantai, meliputi: ruang karaoke, bar & pub, Dinner Theatre, Balcony, VIP Members, dan sebagainya. Padahal, kebanyakan kokinya tidak bisa berbahasa Indonesia (karena umumnya berasal dari Hong Kong).
Toh, itu semua bukan halangan. Hidangan bisa tersaji secara tepat dalam 10 menit. Bill yang diminta pun bisa cepat diserahkan. Begitu pun tak perlu ada pemandangan para pelayan yang wira-wiri ke dapur. Maklum, order cukup dengan mengetikkan kode menu dari semacam monitor dekat meja konsumen, yang memang online ke komputer di dapur. “Dengan bantuan TI (teknologi informasi), kami bisa meng-handle ribuan konsumen dalam waktu bersamaan,” ujar Yusuf Budianto, Manajer TI Hailai, bangga. Menurutnya, berkat aplikasi manajemen resto bernama e-Gourmate ini, manajemen juga dengan mudah bisa mengetahui baik kinerja karyawan maupun keuangan perusahaan.
Perusahaan skala menengah lainnya yang juga sudah menikmati kelezatan buah TI adalah PT Bhinneka Mentari Dimensi (BMD), yang mengoperasionalkan toko online Bhinneka.com. Lewat situs ini, Bhinneka menyediakan layanan berbelanja produk PC, periferal, dan aneka produk TI lainnya. Di situs ini, Bhinneka menampilkan seluruh produk yang dijualnya, fasilitas search engine untuk mencari produk yang diinginkan, berita dan ulasan produk TI hingga solusi seputar TI. Dan, yang amat membantu konsumen karena situs ini menyediakan fitur perbandingan produk, informasi harga aktual, dan fasilitas rancang PC secara mandiri sesuai anggaran. Hanya saja, transaksinya memang belum menggunakan kartu kredit, melainkan lewat transfer bank dan cash on delivery.
Nah, untuk mengelola transaksi ini, Bhinneka melengkapi dengan membangun intranet bernama Digital Office System (DOS) yang menghubungkan ke bagian penjualan, gudang, pengiriman dan akunting. Selain untuk mengintegrasikan proses kerja, DOS juga membantu proses penilaian kinerja karyawan secara transparan (misalnya untuk kepentingan kenaikan pangkat ataupun pemberian bonus), serta menyediakan fasilitas pembelajaran. Selain itu, dijelaskan Hendrik Tio, CEO BMD, pelayanan pada pelanggan bisa lebih cepat dan akurat. “Inilah yang membuat webstore Bhinneka.com makin banyak dikunjungi orang,” katanya.
Manfaat manis juga sudah bisa direguk oleh PT Sapta Romli Buana (SRB), pemilik dan pengelola jaringan Salon Lutuye. Dengan mengembangkan aplikasi customized bernama Lutuye Smart Systems/LSS (dibantu konsultan TI, hukum, pemasaran, keuangan dan waralaba), SRB bisa leluasa mengelola operasional harian salon yang lagi ngetren di kalangan anak muda ini (sehari bisa ribuan pelanggan datang ke jaringan salon ini). Maklum, aplikasi LSS memiliki modul: pengembangan SDM (HRD), pemasaran, kontrol inventori, general ledger, dan unit salon (untuk operasional salon). Menariknya, dengan aplikasi itu memudahkan manajemen SRB mengelola jaringan salon waralaba ini, lantaran tersedianya modul waralaba/direktur salon.
Dengan modul kontrol inventori misalnya, manajemen salon bisa mengontrol ketersediaan peralatan dan produk salon di tiap unit sekaligus tanggal kedaluarsanya. Dengan modul HRD, kuantitas dan kehadiran karyawan bisa dilihat, sehingga bisa diterapkan program reward. Lalu, dengan modul waralaba/direktur salon, manajemen dapat mengetahui kemajuan pembangunan unit waralaba baru, mulai dari segi peralatan, produk, izin, interior-eksterior, dan SDM. Dengan modul ini pula, manajemen SRB bisa memantau keseluruhan unit salon. Salah satu manfaat yang sudah dirasakan, untuk tenaga garda belakang (back office) di setiap unit salon kini cukup tiga orang (terdiri atas staf keuangan, adimintstrasi dan HRD). Padahal, tanpa sistem TI ini diperkirakan butuh 8-9 orang.
Tentu saja, manisnya madu TI bukan monopoli perusahaan menengah, tapi juga perusahaan skala besar dengan kompleksitas yang lebih tinggi, semacam PT Astra Honda Motor (AHM). Tanpa TI, mustahil bisa mengelola 120 perusahaan pemasok komponen, dua pabrik terpisah (di Jl. Yos Sudarso dan Jl. Pegangsaan), satu pusat suku cadang di Cakung, dan satu pabrik moulding di Pulogadung. Nah, saat ini dengan TI, tepatnya menggunakan aplikasi terpadu ERP, setiap 20 detik AHM memproduksi satu unit motor, atau total sehari sekitar 8 ribu unit motor. Salah satu kuncinya lantaran ada modul aplikasi yang membantu AHM menghitung suku cadang yang telah digunakan berikut persediaannya, sehingga bisa memberitahukan kebutuhan persediaan baru untuk dipesan. Simpelnya sistem ini membantu penerapan proses just-in-time. “Kami hampir-hampir tidak punya inventori,” kata Johannes Pratomo, GM Sekretaris Korporat AHM, mengenai value yang paling dirasakan pihaknya berkat implementasi TI.
Agaknya tidak afdol bicara soal bagaimana TI mengubah bisnis sebuah perusahaan tanpa menyinggung BCA, sang jawara perbankan ritel di Tanah Air. Sepuluh tahun lalu, orang masih kikuk menggunakan kartu ATM. Sekarang, boleh dibilang berkat BCA (meskipun bukan pelopornya) sekitar 5 juta nasabah tua-muda terbiasa melakukan berbagai transaksi perbankan (pembayaran, penarikan ataupun isi pulsa) lewat mesin ATM. Begitu juga, orang dulu khawatir bertransaksi lewat fasilitas Internet banking, tapi kini BCA (juga bukan perintisnya) sudah punya ratusan ribu nasabah yang memakai KlikBCA (layanan Internet banking) serta mobile banking-nya. Hebatnya, pengguna Internet banking bukan hanya nasabah individual, tapi juga nasabah korporat berkat pengembangan ke fasilitas KlikBCA Bisnis.
“TI kami posisikan sebagai electronic delivery channel paling penting,” kata Aswin Wirjadi, Deputi Presdir BCA, otak di balik sistem TI bank ini. Manfaat yang paling dirasakan bank ini terutama peningkatan efisiensi dan produktivitas. Pada 1999, jumlah karyawan BCA 23 ribu orang, kini berkurang dua ribu menjadi 21 ribu orang. Toh, bisnis yang ditangani meningkat tiga kali lipat menjadi 3,5 juta transaksi/hari. Manfaat yang tak kalah penting lantaran BCA bisa memperoleh revenue stream baru. Terutama juga berkat sistem TI-nya, fee based income bank ini mencapai lebih dari Rp 1 triliun/tahun. Dan, jangan pula dilupakan, berkat sistem data mining-nya, BCA bisa mengembangkan peluang bisnis baru, seperti tawaran kredit atau produk lainnya yang menyangkut gaya hidup kegemaran nasabah.
Sedikit mengejutkan memang, di tengah skeptisme dunia yang masih kuat terhadap kemujaraban TI dalam memberikan business value ataupun keunggulan kompetitif pada perusahaan, kita dari negeri sendiri, ternyata masih bisa menemukan kisah-kisah manis bagaimana TI mampu memperbaiki kinerja bisnis ataupun meningkatkan kualitas pelayanan pelanggan. Padahal, sekadar memberi gambaran, survei terbaru dari IDC menemukan bahwa 82% perusahaan besar yang disurvei mengaku tak memperoleh keunggulan kompetitif dari aplikasi bisnis yang diimplementasikannya. Ini menguatkan survei terdahulu dari The Standish Group (meskipun angkanya tak sama persis), yang mengungkapkan bahwa hanya 28% proyek TI skala besar yang mampu memenuhi ekspektasi. Lebih detail lagi, Standish mengungkapkan hanya 10% proyek ERP yang berhasil diterapkan, 35% dibatalkan, dan sisanya 55% mengalami keterlambatan. Pengamat TI Nicholas G. Carr pun mengungkapkan pandangan kontroversialnya dalam bukunya yang baru saja diterbitkan Harvard Business School Press, yakni Does IT Matter? Menurut Carr, saat ini kendati perusahaan harus berbelanja TI semata agar tetap kompetitif, mereka tak akan lagi mendapatkan keunggulan strategis apa pun, meskipun sudah menggunakan software mutakhir.
Sebagai pengamat dan penulis TI kawakan, tentulah Carr bukannya tidak tahu nama-nama besar yang mampu meraih keunggulan kompetitif ataupun diferensiasi berkat memanfaatkan TI, seperti Wal-Mart, GE, Dell, Home Depot, Nestle, P&G, Nordea, FedEx, DHL, Harley-Davidson, General Motors, dan beberapa nama lainnya. Besar kemungkinan, Carr bicara soal statistik. Artinya, dari jutaan perusahaan, baru nama-nama itu yang secara menonjol mampu membuktikan “keajaiban” TI.
Sekali lagi bicara statistik, fenomenanya di Tanah Air tak jauh berbeda. Dari daftar ribuan perusahaan yang layak diamati, untuk mencari 100 perusahaan yang sudah memanfaatkan TI secara signifikan dan layak dinominasi sebagai The Best e-Corporation tahun ini, ternyata bukan hal mudah. Apalagi, untuk memilih 25 Terbaik (The Best 25). Meski ini bukan kali yang pertama SWA mengangkat tema yang berkaitan dengan TI sebagai Sajian Utama, boleh dibilang ini merupakan yang pertama SWA secara gamblang melakukan pemilihan 25 perusahaan brick & mortar (nondotcom) yang terbaik dalam pemanfaatan TI.
Menyadari kesulitan ini, SWA membuka dua “pintu” nominasi. Pertama, dinominasi langsung oleh SWA berdasarkan bank data yang selama ini dimiliki SWA. Nomineenya berasal dari nama-nama perusahaan yang pernah diliput SWA, terutama dari segi manajemen dan strategi TI-nya. Asumsinya, perusahaan-perusahaan yang pernah diliput SWA ini punya inisiatif dan investasi TI relatif signifikan, dengan kadar program berbasis TI di atas rata-rata kebanyakan perusahaan di Tanah Air lainnya, dan biasanya punya kekhasan/keunikan tersendiri atau setidaknya memiliki hal-hal yang menarik diamati. Hanya saja, untuk menjaga aktualitas, SWA membatasi peliputan dalam tiga tahun terakhir (2002-04). Ini juga dengan pertimbangan masih layak menilai investasi/inisiatif TI dalam masa tiga tahun terakhir. Kendati begitu, tim riset juga meng-update informasi terbaru dari sistem TI perusahaan-perusahaan tersebut.
Pintu kedua, SWA mengundang para vendor dan konsultan TI ternama yang berkiprah di Indonesia. Beberapa vendor dan konsultan TI yang untungnya berkenan untuk berpartisipasi mengirimkan beberapa nama kliennya, yakni: Oracle Indonesia, SAP Indonesia, IFS Indonesia, IBM Indonesia, Computer Associates, Realta Cakradharma, Astra Graphia, Berca Hardayaperkasa, Puspa Intimedia, dan Perdana Consulting.
Dari dua pintu itu terkumpul 79 nama perusahaan (dari berbagai jenis industri) yang dinilai layak sebagai nominee. Meliputi: 29 perusahaan yang direkomendasi oleh vendor /konsultan aplikasi (sebagian ternyata juga diusulkan oleh SWA karena pernah diliput), dan 50 perusahaan yang pernah diliput oleh SWA tapi tidak diusulkan oleh vendor/konsultan.
Untuk membantu proses penilaian dan pemilihan The Best e-Corp, SWA mengundang dan membentuk tim panel ahli, yakni: Paulus Bambang W.S. (pengamat manajemen bisnis dan kini Direktur United Tractors Tbk.), Mas Wigrantoro (pengamat TI dan juga Direktur Country Harris Asia Pacific), dan Adrianto Gani (pengamat TI dan juga CEO Intimedia). Sebenarnya, ada beberapa nama lain yang diusulkan untuk menjadi panel ahli, tapi sayang mereka berhalangan. Bersama tim panelis ini, SWA membangun kriteria penilaian dan sekaligus melakukan proses pemilihan.
Dari hasil diskusi antara tim panelis dan Redaksi SWA, disepakati untuk menggunakan kriteria 5i guna memilih 25 Best e-Corp 2004. Boleh dibilang, rumusan kriteria ini sebagai hasil racikan dari berbagai formula yang pernah dipakai SWA sebelumnya dalam proses pemilihan e-business terbaik, bahan perbandingan dari jurnal berkelas internasional semacam CIO (yang secara rutin menyelenggarakan ajang pemilihan CIO 100), serta masukan dari semua anggota panelis dan tim SWA (lihat Boks: Kriteria 5i).
Kriteria 5i
-
Integration & intensity, yang mengukur keterpaduan (internal & eksternal) baik dalam lingkup maupun hasil implementasinya, serta keluasan dan kedalaman implementasi TI-nya.
-
Innovation, yang mengukur kreativitas perusahaan dalam memanfaatkan TI ataupun inovasi yang diciptakan dalam proses bisnis perusahaan.
-
Implementation, yang mengukur kualitas proses implementasi sistem TI-nya sehingga bisa tepat waktu (on time), tepat anggaran (on budget) dan tepat cakupan (on scope).
-
Impact on result, yang mengukur manfaat atau dampak yang bisa dirasakan pelanggan (internal & eksternal) dari sistem yang digunakan perusahaan.
-
Implementabilty to others, yang mengukur kemungkinannya untuk diterapkan (sebagai best practice) di perusahaan lain.
Dari hasil diskusi dan penilaian terhadap para nominee dengan memperhatikan kerangka 5i berhasil diperoleh 25 nama perusahaan sebagai The Best e-Corporation tahun ini (lihat Tabel). Rinciannya: 8 perusahaan dari bidang manufaktur, 6 perusahaan jasa, 6 perusahaan finansial (perbankan, asuransi dan multifinance), 5 perusahaan dari kategori ritel dan distribusi (termasuk distributorship).
Dari hasil analisis terhadap para nominee yang masuk, pada dasarnya mereka dinilai sudah punya kesadaran cukup tinggi dalam memanfaatkan TI. Hanya saja, meminjam istilah Mas Wigrantoro, banyak dari mereka yang baru bisa memenuhi “kebutuhan fisik minimum” sebagai perusahaan. Maksudnya, sistem TI di perusahaan mereka baru memenuhi kebutuhan dasar perusahaan seperti menangani soal administratif.
Memang, banyak dari nominee yang tidak terpilih sebagai The Best 25 yang sebenarnya sudah berinvestasi TI secara masif, seperti mengimplementasi aplikasi korporat sekelas ERP dari vendor-vendor besar. Hanya saja, banyak dari mereka yang belum mampu menunjukkan manfaat penggunaan TI bagi para pelanggan (internal dan eksternal).
Nah, yang terpilih sebagai The Best e-Corp adalah mereka yang dinilai mampu memanfaatkan TI lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan dasar (beyond the basic usage) sebagai perusahaan. Perusahaan yang diceritakan di atas seperti Hailai, Bhinneka, Salon Lutuye, AHM dan BCA adalah sebagian dari mereka yang dinilai mampu menunjukkan nilai terbaik pemanfaatan TI dari penilaian kriteria 5i. Atau, dalam bahasa yang lebih universal: merekalah perusahaan yang mampu memanfaatkan TI untuk menciptakan keunggulan kompetitif dalam lingkungan bisnisnya, dan mampu memberikan value yang signifikan bagi para pelanggan.
Mengomentari keberhasilan BCA masuk sebagai The Best 25, Aswin Wirjadi, Deputi Presdir BCA, menyebutkan keberhasilan banknya tak lepas dari rencana strategis perusahaan untuk unggul di bisnis perbankan ritel. “Artinya, kami harus siap menangani banyak transaksi, dan solusinya cuma TI,” katanya. Ia berpendapat, keunggulan BCA, karena sudah melangkah lebih jauh (lebih dari 10 tahun mengembangkan sistem). Jadi, ketika misalnya bank-bank lain baru bicara kemudahan layanan bertransaksi, BCA dengan data mining-nya malah punya banyak peluang mengembangkan layanan spesifik pada nasabahnya. Manfaat lainnya, pekerjaan karyawan juga jadi lebih bermutu, tidak sekadar klerikal, karena fungsi analisisnya berjalan.
Toh, ini sepadan dengan besarnya capital expenditure untuk TI (pembelian hardware) yang setiap tahunnya US$ 20-25 juta. Masih ditambah biaya telekomunikasi, lisensi software, dan maintenance, yang setiap tahun menghabiskan US$ 15-20 juta. Jadi, menurut Aswin, total pengeluaran TI BCA setahun mencapai US$ 40-50 juta. Angka ini memang besar, tapi jika menilik fee based income-nya yang mencapai lebih dari Rp 1 triliun/tahun — yang banyak disumbang atau didukung oleh fasilitas TI — maka pengeluaran TI itu menjadi amat rasional.
Kalangan pelanggan korporat pun sudah merasakan manfaat yang diberikan BCA. Contohnya PT Perma Plasindo (PP), produsen alat kantor Bantex, yang kini nasabah KlikBCA Bisnis. Menurut Srijanti, Manajer Keuangan & Administrasi PP, perusahaannya menjadi nasabah korporat BCA sejak masih berupa layanan BCA By Phone, kemudian ke BCA Link hingga sekarang KlikBCA Bisnis. Sri mengaku dengan layanan ini, perusahaannya serasa mempunyai teller pribadi di kantor. “Semua urusan mulai payroll sampai bayar klaim karyawan cukup dari komputer kantor,” ujar Sri. “Pokoknya, kami bisa menjalankan manajemen kas dengan baik,” tambahnya.
Adapun Yusuf Budianto, Manajer TI Hailai, menilai kecepatan layanan kepada konsumen merupakan salah satu keunggulan restonya dibanding para pemain lain di industri sejenis. Ia mengaku bersyukur, dukungan manajemen cukup kuat, hingga kasarnya, apa pun yang diusulkan bagian TI biasanya selalu didukung. Menurutnya, itu karena mereka sudah menikmati mudahnya menjalankan perusahaan dengan dukungan TI. Contohnya, ke depan Hailai siap mengembangkan aplikasi di mana manajemen bisa mengakses berbagai data perusahaan lewat peranti mobile semacam PDA, dan konsumen bisa mengecek jumlah poin dari akumulasi transaksinya.
Toh, Hendrik mengaku meskipun perusahaannya tergolong heavy user di bidang TI, ia belum puas karena masih butuh pengembangan, terutama dalam hal integrasi sistem. Yang jelas, sebagai manajemen puncak, ia sudah merasakan manfaatnya. “Pekerjaan kami jadi lebih efisien, karena semua dapat dilakukan dari meja masing-masing,” katanya. Ini termasuk mulai dari pembuatan penawaran, pencarian data, hingga mengetahui status pengiriman barang. Untuk belanja TI-nya setahun Bhinneka menganggarkan Rp 400 juta. Ini tergolong cukup tinggi bagi perusahaan skala kecil-menengah seperti Bhinneka. “Tapi, buat kami TI bukan biaya, melainkan investasi,” sambung Hendrik berkenaan dengan komitmennya.
Hendrik mengaku tak mau terlalu pusing menghitung detail tingkat pengembalian investasi TI-nya. Menurutnya, yang terpenting bagaimana perusahaan bisa tumbuh dan berkembang, serta mampu menampung order yang jumlahnya sudah jauh dari perkiraan sebelumnya. “Dulu hanya 20 order saja kami sudah keteteran, sekarang dengan puluhan kali lipat, tetap tidak terjadi chaos,” ujarnya bangga.
Dalam pandangan Paulus Bambang, kualitas para nominee mengalami peningkatan dibanding situasi beberapa tahun lalu. Pertama, TI telah dipandang sebagai infrastruktur dasar (basic) yang harus ada agar perusahaan bisa bertahan. “Jadi sudah ada perubahan paradigma yang cukup signifikan, bahwa TI bukan barang mewah yang hanya untuk gagah-gagahan. TI sudah harus jadi nerve system dalam tubuh perusahaan,” katanya. Indikasinya, permintaan aplikasi semacam ERP sebagai infrastruktur dasar meningkat pesat selama dua tahun terakhir.
Kedua, ada peningkatan kualitas pada implementasi. “Kecenderungan implementasinya semakin cepat dan tidak bertele-tele,” ujar Paulus. Ia mengungkapkan, IT people dari perusahaan semakin menyadari bahwa penggunaan pola in-house development dibanding paket aplikasi semakin jelas. Ia mengamati banyak perusahaan yang cenderung memakai paket aplikasi lalu ditambahkan beberapa aplikasi khusus yang unik sesuai dengan kebutuhan mereka, tapi proses bisnisnya tetap mengacu pada best practice yang ada di paket itu. “Ini mempercepat baik implementasi maupun hasil yang dirasakan oleh bagian operasional,” tuturnya.
Ketiga, lanjut Paulus, variasi implementasi TI tahap intermediate seperti SCM dan CRM mulai banyak dicoba. Bahkan, aplikasi tingkat advance yang menggabungkan aplikasi bisnis yang berciri mobile (yang diakses dengan peranti semacam PDA), sistem online dan semacamnya untuk integrasi dengan berbagai kantor di seluruh dunia, mulai bertumbuh. “Ini menggembirakan,” ujarnya.
Dari kriteria 5i, Paulus menilai kebanyakan nominee sudah pada tingkat yang baik pada kriteria I-1 (integrasi & intensitas) dan I-3 (implementasi). Alasannya, rata-rata strategi TI mereka sudah jelas di mana TI akan mendukung strategi perusahaan. Adapun kriteria I-4 , yakni impact on result atau creating value, ia menilai baru beberapa perusahaan yang bisa dinilai excellent. Dalam rumusan lebih sederhana, biasanya impact on result ini dihitung dari sejauh mana perusahaan yang bersangkutan mampu memberikan layanan yang bersifat better, faster and cheaper. Contohnya, dalam skala kompleks, BCA menawarkan debit card, cash card, Internet banking, mobile banking, dan sebagainya. Dalam skala lain Blue Bird misalnya mampu memberikan nilai tambah bagi pelanggan dengan implementasi aplikasi berbasis GPS. Namun, Paulus menilai pada criteria I-2, yakni inovasi, contoh suksesnya memang masih sangat terbatas, dan sejauh ini belum menjadi rule of the game changer.
Sementara itu, Adrianto Gani, panelis lainnya membagi ke-25 e-corporation terpilih dalam tiga kelompok. Pertama, perusahaan yang merupakan representasi multinational company seperti Makro, Avon, DHL dan Amway. “Mereka tinggal menjalani apa yang sudah diatur kantor pusat,” katanya. Itulah sebabnya keberhasilan penerapan TI di perusahaan itu bisa lebih terjamin, sebab sistemnya sudah menjadi best practice di beberapa negara.
Kedua, karena karakteristik industrinya yang membuat implementasi TI sebagai suatu keharusan. “Kalau tidak ada, bisa jadi perusahaan tidak bisa bertahan,” ujarnya. Bisa jadi karena bisnisnya sangat kompleks, padat modal, atau punya banyak keterkaitan dengan pihak lain. Contohnya: industri keuangan, perusahaan rokok, farmasi dan distribusi. Ketiga, perusahaan yang memiliki keberanian berinovasi agar bisa unggul dibanding pemain lainnya. Ia mencontohkan Salon Lutuye dan Bhinneka. “Saya melihat Bhinneka sebagai webstore sangat konsisten,” ujarnya memuji.
Lantas, bagaimana kualitas The Best 25 dibanding sejawatnya di luar negeri? Menurut Paulus, jika dibandingkan dengan Amerika Serikat sebagai kiblatnya e-corporation, jelas belum ada apa-apanya. “Infrastruktur infokomnya pun kita masih ketinggalan, padahal ini sangat dibutuhkan agar inovasi berkembang dengan cepat,” katanya. Belum lagi, soal infrastruktur nonteknis seperti aspek hukum yang belum tertata rapi. Perusahaan di AS, menurutnya, sudah memandang TI sebagai competitive edge, bukan sekadar infrastruktur untuk operasional bisnis. “Jadi, mereka selalu bisa melahirkan ide baru yg mengubah proses bisnis mereka sehingga pelanggan semakin terikat dengan mereka,” ujarnya. Menurutnya lagi, kalau dibanding negara lain di ASEAN, kecuali Singapura, ia berpendapat perusahaan-perusahaan kita belum ketinggalan.
Soal ini, Adrianto — mengacu pada McKenzie Review (triwulanan) tahun 2004 — mengungkapkan, perusahaan-perusahaan di AS berinvestasi TI sebagai kebutuhan untuk menciptakan value, yakni untuk meningkatkan sales/revenue atau kualitas pelayanan pelanggan. Sementara di sini, dengan mengamati klien-kliennya, Adri melihat fokus mereka baru sebatas menciptakan efisiensi. “Mereka hanya ingin membuat sesuatu lebih otomatis dalam proses, menekan biaya yang timbul karena manual, serta membuat laporan yang lebih cepat dan mudah,” tuturnya.
Dengan segala plus-minusnya kualitas para pemenang The Best 25 di atas, Paulus memberi catatan agar mereka membenahi aspek inovasi dan impact on result . “Dalam arti fokus pengembangan TI untuk memuaskan kebutuhan pelanggan, bukan hanya melihat ke dalam proses bisnis internal mereka,” katanya. Paulus menyarankan ada tiga faktor utama yang harus dibenahi agar fokus pada pelanggan ini bisa menghasilkan financial result yang baik (sesuai dengan metodologi Balanced Scorecard).
Pertama, aspek learning and growth; artinya kompetensi SDM harus ditingkatkan, baik dari segi keterampilan maupun paradigma bisnisnya. “IT is about business, not only system,” kata Paulus. Ia menyebutkan kalau SDM-nya cuma jago di sistem TI, bukan pada proses dan model bisnis, maka TI-nya akan berkutat pada otomasi proses saja. Kedua, melakukan investasi pada infrastruktur TI, mulai dari jaringan, software dan hardware yang memadai. “Ini memerlukan keberanian sekaligus kepiawaian mengelola cost and benefit,” katanya. Ia menyarankan agar perusahaan berpegang pada prinsip invest first, result later. Ketiga, melakukan perubahan pada aspek proses bisnis dan cara kerja seluruh organisasi, termasuk orang di lapangan. Menurutnya, keterampilan dan apresiasi mereka terhadap TI harus ditingkatkan, agar bisa menjadikan TI sebagai senjata strategis untuk menang dalam persaingan, bukan lagi beban.
Adri menambahkan saran agar manajemen perusahaan tidak lagi melihat TI sebagai masalahnya divisi TI saja, melainkan sudah memasukkannya dalam strategi bisnis mereka. “Mestinya direksi sudah aware kalau ditanya perkembangan TI dan kaitan dengan bisnisnya, bukan diserahkan ke divisi TI saja,” katanya. Soal konsisten juga menjadi perhatiannya. “Jangan angin-anginanlah, di awalnya hot, setelah ke belakang lembek,” lanjutnya mengingatkan.
Yang jelas, ke-25 perusahaan terpilih sudah menunjukkan bagaimana bisa memperoleh keunggulan kompetitif saat ini, baik untuk kebutuhan internal mereka maupun memuaskan kebutuhan pelanggan. Dan, kalau saja TI lebih didudukkan sebagai investasi masa depan, boleh dibilang separuh masa depan sudah mereka pegang. Asalkan, seperti saran para pakar, ada kemauan untuk bebenah, belajar dan berkembang secara konsisten.
Reportase: Herning Banirestu, Abraham Susanto, Taufik Hidayat, Dedi Humaedi.
Riset: Vika Octavia dan Ely Chandra.

June 16th, 2004
Joko Sugiarsono
Posted in





